Lombok Utara,SIARPOST— Upaya menekan angka tengkes (stunting) di Kabupaten Lombok Utara mulai bergerak ke arah yang lebih konkret. Bukan sekadar wacana atau kampanye sesaat, sebuah inisiatif kolaboratif bertajuk Expo “Lentera” (Langkah Edukasi Nyata untuk Mewujudkan Masyarakat Hidup Sehat dan Sejahtera) hadir membawa pendekatan yang lebih membumi mengolah potensi pangan lokal menjadi solusi gizi yang aplikatif.
Digelar di Lapangan Tanjung, Rabu (22/4/2026), expo ini menjadi panggung bagi inovasi sekaligus bukti bahwa intervensi kesehatan bisa dimulai dari dapur masyarakat sendiri. Program ini diinisiasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Terpadu Poltekkes Kemenkes Mataram, yang melibatkan 88 mahasiswa dari delapan desa di Kecamatan Tanjung.
Berbekal latar belakang keilmuan yang beragam—mulai dari kebidanan, keperawatan, teknologi laboratorium medis, hingga gizi para mahasiswa tidak hanya turun memberikan penyuluhan, tetapi juga membawa solusi nyata yang bisa langsung diterapkan masyarakat.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah “Maduraga”, inovasi berbasis madu Trigona dan rempah rimpang yang dikembangkan di Desa Sigar Penjalin. Produk ini bukan sekadar minuman kesehatan, tetapi juga menjadi contoh bagaimana bahan lokal dapat diolah untuk meningkatkan nilai gizi.
Selain itu, ada pula “Bakso ATK” (ayam, tempe, kelor), yang dirancang sebagai alternatif makanan tambahan tinggi protein. Produk ini sengaja dibuat dengan pendekatan rasa yang familiar agar mudah diterima anak-anak, namun tetap memenuhi kebutuhan nutrisi penting untuk tumbuh kembang.
Inovasi lainnya tak kalah menarik, mulai dari teh kembang sepatu hingga jasuke (jagung susu keju) yang telah diperkaya kandungan gizinya. Semua produk ini menunjukkan satu hal: solusi gizi tidak selalu harus mahal atau bergantung pada bahan impor.
Dosen Pembimbing Lapangan, Dian Ayu, menegaskan bahwa pendekatan berbasis pangan lokal menjadi strategi kunci dalam program Lentera. Selama ini, menurutnya, banyak potensi bahan pangan di masyarakat yang belum dimanfaatkan secara optimal dari sisi nilai gizi.
“Pendekatannya sederhana, tapi berdampak. Kita tidak mengubah kebiasaan secara drastis, melainkan mengoptimalkan apa yang sudah ada di sekitar masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada asupan gizi, kegiatan ini juga membuka ruang deteksi dini masalah kesehatan. Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa turut melakukan skrining penyakit tidak menular (PTM), yang dinilai penting untuk membaca tren kesehatan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Utara, dr. H. L. Bahrudin, M.Kes., melihat langkah ini sebagai bagian dari upaya strategis yang jarang disentuh dalam kegiatan serupa.
“Data dari skrining ini sangat penting. Dari sini kita bisa mengetahui pola penyakit dan menentukan langkah intervensi yang lebih tepat,” katanya.
Ia menekankan bahwa kegiatan semacam ini seharusnya tidak berhenti pada expo semata. Skrining rutin, peningkatan cakupan imunisasi, hingga pengendalian penyakit menular perlu terus dilanjutkan di tingkat desa.
Kolaborasi antara institusi pendidikan dan pemerintah daerah dalam program Lentera menjadi contoh bagaimana pendekatan lintas sektor dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Lebih dari sekadar kegiatan mahasiswa, program ini menghadirkan energi baru dalam upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya hidup sehat.
Jika konsistensi bisa dijaga, bukan tidak mungkin langkah kecil dari dapur-dapur lokal di Lombok Utara ini akan menjadi fondasi besar dalam menekan angka stunting secara berkelanjutan.(Niss)
