Lombok utara,SIARPOST – Desa Kayangan mulai memetik hasil dari perang panjang melawan tengkes atau stunting. Bukan lewat program besar yang penuh seremoni, melainkan dari kerja senyap kader Posyandu, edukasi door to door, hingga pemanfaatan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjangkau seluruh sasaran Posyandu di desa tersebut.
Data terbaru tahun 2026 menunjukkan angka stunting di Desa Kayangan turun hingga berada di kisaran 10 persen, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang masih berada di angka sekitar 12 persen. Penurunan ini sekaligus menempatkan Desa Kayangan di bawah standar nasional prevalensi stunting.
Kepala Desa Kayangan menyebut capaian itu menjadi sinyal positif bahwa intervensi yang dilakukan selama ini mulai berjalan efektif, meski desa menghadapi keterbatasan anggaran.
“Kalau dibanding dengan tahun lalu, ada penurunan. Tahun lalu sekitar 12 persen, tahun ini turun menjadi kurang lebih 10 persenlah,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Menariknya, penurunan tersebut tidak terjadi karena hilangnya kasus di satu wilayah tertentu, melainkan karena hampir seluruh dusun berhasil menjaga angka kasus tetap rendah. Dari evaluasi tingkat kecamatan, rata-rata hanya ditemukan satu hingga dua kasus di masing-masing dusun tanpa adanya lonjakan dominan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan stunting di Desa Kayangan bukan lagi soal ledakan kasus, melainkan bagaimana menjaga agar kasus kecil yang tersebar tidak berkembang menjadi masalah baru.
Pemerintah desa menilai, akar persoalan stunting masih didominasi faktor perilaku dan pola asuh. Kurangnya pemahaman sebagian orang tua tentang pentingnya asupan gizi menjadi salah satu penyebab utama.
Selain itu, banyak kasus stunting ternyata bermula sejak masa kehamilan. Ibu hamil yang kekurangan nutrisi berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah atau prematur, yang kemudian rentan mengalami gangguan pertumbuhan.
Di tengah efisiensi anggaran desa tahun ini, Pemdes Kayangan bahkan harus menghentikan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang sebelumnya dibiayai langsung melalui dana desa. Namun kondisi itu tidak membuat upaya penanganan berhenti.
Sebagai gantinya, desa memperkuat peran kader Posyandu untuk turun langsung memberikan edukasi kepada keluarga sasaran. Pendekatan personal dinilai lebih efektif untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang pentingnya gizi anak dan ibu hamil.
“Upaya kita dari Pemdes, yang pertama, kita mengajak keaktifan daripada kader-kader Posyandu untuk tetap memberikan edukasi kepada orang tua asuhnya, termasuk anak-anaknya,” jelas Kepala Desa.
Langkah lain yang ikut membantu penurunan angka stunting adalah integrasi dengan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Seluruh sasaran Posyandu di Desa Kayangan kini telah masuk dalam cakupan program tersebut, sehingga anak-anak mendapatkan asupan makanan bergizi secara rutin setiap hari.
Kombinasi edukasi, pendampingan kader, dan dukungan program gizi itulah yang kini menjadi senjata utama Desa Kayangan menjaga tren penurunan stunting tetap berlanjut, meski di tengah keterbatasan anggaran desa.(Niss)
