Mori Hanafi Beberkan Tantangan Akomodasi dan Transportasi Porprov NTB 2026, Ini Total Anggarannya

MATARAM, SIAR POST – Ketua KONI NTB, Mori Hanafi, memberikan penjelasan mengenai tantangan penyediaan akomodasi dan transportasi selama pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB 2026.

Menurutnya, lonjakan biaya hotel dipengaruhi tingginya tingkat hunian karena pelaksanaan Porprov bertepatan dengan musim liburan bagi wisatawan atau Peak season.

Mori menjelaskan, jumlah kebutuhan kamar untuk kontingen Porprov mencapai lebih dari 4.000 kamar. Meski terdapat sejumlah hotel yang menawarkan tarif sekitar Rp300 ribu hingga Rp320 ribu per malam, sebagian besar harga hotel diatas harga plafon yang telah direncanakan.

“Hotel seperti Lombok Raya, Golden Palace, Swiss-Belhotel, Hotel Raja hingga Lombok Garden rata-rata berada pada kisaran Rp450 ribu sampai Rp500 ribu per malam. Kondisi ini dipengaruhi karena bersamaan dengan peak season sehingga tarif hotel ikut meningkat,” ujarnya usai Konferensi pers di Hotel Madani Mataram, Selasa (21/7/2026).

Ia menegaskan, anggaran akomodasi masih bersifat dinamis karena bergantung pada kebutuhan riil selama pelaksanaan pertandingan.

Sejumlah cabang olahraga mengalami penambahan hari pertandingan maupun perubahan jadwal sehingga kebutuhan kamar juga ikut berubah.

“Sementara ini anggaran akomodasi dari provinsi sekitar Rp6 miliar, ditambah sharing dari kabupaten/kota sekitar Rp3,5 miliar. Angka ini masih bergerak dan baru akan diaudit setelah Porprov selesai karena nanti akan dihitung berdasarkan penggunaan riil,” jelasnya.

Menurut Mori, mekanisme pembiayaan dilakukan melalui kontribusi pemerintah kabupaten/kota yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kontingen.

Tidak seluruh atlet maupun ofisial dapat ditempatkan di hotel berbintang mengingat keterbatasan jumlah kamar yang tersedia.

Dengan total dukungan pemerintah sekitar Rp8,8 miliar, menurutnya anggaran tersebut masih belum mampu menutup seluruh kebutuhan penyelenggaraan.

“Kami juga mendapat dukungan dari PT Amman dan Bank NTB Syariah, namun nilainya masih terbatas dibanding kebutuhan yang ada,” katanya.

Tak hanya akomodasi, kebutuhan transportasi juga menjadi tantangan tersendiri. Mori mengungkapkan, kebutuhan riil transportasi diperkirakan mencapai sekitar Rp480 juta, sementara kemampuan anggaran yang tersedia hanya sekitar Rp100 juta sehingga harus dibantu oleh layanan Damri.

“Mobilitas atlet cukup tinggi. Pagi mengantar ke venue, siang menjemput, lalu kembali lagi sesuai jadwal pertandingan. Ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ungkapnya.

Exit mobile version