MATARAM, SIARPOST – Potensi besar pariwisata halal di Pulau Lombok belum sepenuhnya berbanding lurus dengan keterlibatan masyarakat lokal. Persoalan tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam riset Prof. Dr. Misbah Zulfa Elizabeth, M.Hum., yang kini mulai diarahkan untuk melahirkan model baru pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Hasil riset tahun pertama itu dipaparkan dalam kegiatan diseminasi bertajuk “Strategi Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Pariwisata Halal: Studi di Pulau Lombok NTB” yang berlangsung di Ballroom Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB, Senin, 10 Agustus 2026.
Dalam paparannya, Prof. Misbah menjelaskan penelitian tersebut tidak hanya melihat potensi destinasi wisata halal di Lombok, tetapi juga memetakan berbagai persoalan, upaya yang telah dilakukan, dampak pengembangan pariwisata, hingga peluang membangun model pemberdayaan masyarakat yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Menurutnya, Lombok memiliki modal yang sangat kuat untuk mengembangkan pariwisata berbasis halal. Kekayaan alam, budaya, tradisi, kuliner hingga berbagai aset lokal dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah.
Namun, potensi tersebut belum seluruhnya dikembangkan secara optimal oleh masyarakat setempat.
«“Potensi wisata halal ini banyak yang belum dikembangkan secara maksimal oleh penduduk daerah setempat,” ujar Prof. Misbah.»
Pemberdayaan Tidak Cukup Berhenti di Pelatihan
Salah satu gagasan utama yang dikembangkan dalam riset tersebut adalah membangun pemberdayaan masyarakat secara berjenjang dengan menggunakan perspektif pemberdayaan Zimmerman.
Pemberdayaan dipetakan dalam tiga tingkatan, yakni individu, organisasi dan komunitas.
Pada tingkat individu, masyarakat didorong memiliki kesadaran serta kapasitas untuk mengenali dan mengembangkan potensi yang ada di lingkungan mereka sebagai bagian dari peningkatan kualitas hidup.
Sementara pada tingkat organisasi, pemberdayaan diarahkan pada terbentuknya kesadaran kolektif serta kolaborasi antara masyarakat, kelompok sadar wisata dan pengelola pariwisata.
Selanjutnya, keterlibatan berbagai unsur tersebut diperkuat pada tingkat komunitas sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penonton perkembangan pariwisata, tetapi menjadi bagian dari pelaku sekaligus penerima manfaat.
Konsep Wisata Halal Masih Dipahami Beragam
Riset Prof. Misbah juga menemukan sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan jika Lombok ingin mengembangkan wisata halal secara lebih kuat.
Salah satunya adalah pemahaman masyarakat mengenai konsep pariwisata halal yang belum seragam.
Menurut Prof. Misbah, wisata halal tidak selalu dapat diterapkan dengan pola yang sama di setiap daerah. Konsep tersebut harus memperhatikan karakter budaya, kondisi sosial dan potensi lokal masing-masing wilayah.
Selain persoalan pemahaman, penelitian juga mencatat tantangan lain seperti identitas budaya, kebersihan, ketersediaan fasilitas, keterbatasan anggaran sertifikasi halal bagi pelaku usaha, promosi serta pengelolaan destinasi.
Aspek kebersihan bahkan menjadi perhatian khusus.
Tim peneliti melihat pentingnya membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini. Salah satu gagasan yang muncul adalah edukasi kepada anak-anak mengenai sampah plastik, mikroplastik, lingkungan dan kesehatan.
Pengetahuan tersebut kemudian diarahkan menjadi kebiasaan nyata, mulai dari memilah sampah, mengelola sampah organik hingga membangun budaya menjaga kebersihan lingkungan.
Belajar dari Jawa Barat, Aceh hingga Thailand
Dalam memperkaya penelitian, tim Prof. Misbah tidak hanya melihat kondisi Lombok. Sejumlah praktik dari wilayah lain juga dipelajari, termasuk Jawa Barat, Aceh dan Thailand.
Dari Jawa Barat, tim melihat bagaimana pembentukan kebiasaan dan edukasi masyarakat dilakukan secara sistematis.
Sementara dari Aceh, penelitian menyoroti aspek dukungan kelembagaan dan fasilitasi terhadap pelaku usaha, khususnya dalam memperoleh sertifikasi halal.
Adapun Thailand memberikan gambaran mengenai bagaimana ekosistem wisata halal dapat dibangun melalui berbagai aspek, mulai dari transportasi, layanan wisata, kebutuhan ibadah, hospitality, kebersihan, kedisiplinan hingga pemanfaatan aset lokal sebagai bagian dari objek wisata.
Berbagai pembelajaran tersebut kemudian menjadi bahan dalam penyusunan model pemberdayaan masyarakat yang akan dikembangkan untuk konteks Lombok.
Promosi Digital Jadi Tantangan
Selain pemberdayaan masyarakat, promosi digital juga menjadi salah satu perhatian dalam penelitian tersebut.
Prof. Misbah menilai berbagai potensi alam dan budaya yang dimiliki Lombok belum seluruhnya dipromosikan secara konsisten melalui media digital.
Padahal, perkembangan teknologi dan perubahan perilaku wisatawan membuat keberadaan destinasi di ruang digital semakin penting.
Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat tidak hanya diarahkan pada pengelolaan destinasi, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengemas, mempromosikan dan memperkenalkan potensi lokal kepada pasar wisata yang lebih luas.
Riset Masuk Tahap Piloting
