Masjid Rusak Diterjang Gempa, Warga Biting NTT Tetap Salat Jumat di Bawah Tenda

MANGGARAI NTT, SIAR POST — Gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah warga, tetapi juga memaksa masyarakat beribadah dengan kondisi serba terbatas.

Pemandangan haru itu terlihat di Masjid Nurul Huda Biting, Desa Nanga, Kecamatan Sambi Rampas, Manggarai, NTT, Jumat (21/8/2026).

Karena bangunan masjid mengalami kerusakan akibat gempa dan belum memungkinkan digunakan untuk salat, warga terpaksa mendirikan tenda sederhana sebagai tempat pelaksanaan Salat Jumat.

Cerita tersebut disampaikan Muhammad Sa’dudin, warga Biting Manggarai yang juga seorang kepala sekolah. Ia menggambarkan bagaimana masyarakat tetap berusaha menjaga ibadah meski tempat mereka beribadah mengalami kerusakan.

“Masjid Nurul Huda Biting tidak bisa digunakan untuk salat karena rusak akibat gempa. Untuk Salat Jumat hari ini, kami menggunakan tenda seadanya,” ujar Sa’dudin.

Meski hanya beratapkan tenda, antusiasme warga untuk melaksanakan Salat Jumat tidak surut. Jamaah datang dari sejumlah desa dan wilayah sekitar, di antaranya warga Biting, Pandang Mata, Pota Tanaling, Randang, serta mahasiswa PENA UMY.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana bencana tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga mengubah aktivitas kehidupan masyarakat. Namun, di tengah keterbatasan, warga memilih untuk tetap berkumpul dan menjalankan ibadah bersama.

Gempa Besar Flores Tinggalkan Kerusakan

Gempa yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 tercatat memiliki magnitudo 7,7 dengan pusat gempa di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. BMKG juga sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami.

Dampaknya terasa luas di Pulau Flores. BNPB mencatat ribuan warga terdampak dan kerusakan terjadi pada rumah maupun fasilitas umum. Di Manggarai dan Manggarai Timur, kerusakan juga menimpa sejumlah tempat ibadah.

Bahkan, laporan kepolisian mencatat 16 tempat ibadah di Manggarai Timur telah terdata mengalami kerusakan, terdiri dari delapan rusak berat dan delapan rusak ringan. Sejumlah masjid dan musala juga termasuk di dalamnya.

Di tengah kondisi tersebut, kisah warga Masjid Nurul Huda Biting menjadi potret kecil dari perjuangan masyarakat Flores untuk bangkit. Masjid boleh rusak, tetapi semangat untuk bersujud tidak ikut runtuh.

Bagi warga, tenda sederhana bukan sekadar tempat sementara untuk Salat Jumat. Di sana ada keteguhan, kebersamaan, dan harapan bahwa suatu hari nanti Masjid Nurul Huda Biting kembali berdiri dan dapat digunakan untuk beribadah seperti sebelumnya.

Kini, warga berharap perhatian dan bantuan dari berbagai pihak agar rumah ibadah yang rusak akibat gempa dapat segera diperbaiki sehingga masyarakat kembali memiliki tempat ibadah yang aman dan layak. (Red)

Exit mobile version