PDAM KLU ungkap Alasan Air Daratan belum bisa di pasok ke gili

LOMBOK UTARA,SIARPOST — Keterbatasan sumber air baku menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi PDAM Kabupaten Lombok Utara (KLU) dalam memperluas pelayanan kepada masyarakat. Hingga kini, PDAM hanya mengandalkan 10 sumber air, sementara kebutuhan pelayanan terus meningkat, terutama di wilayah Kecamatan Pemenang.

Direktur Utama PDAM KLU, Ramdhan Jayadi, S.Pd, mengatakan kondisi sumber air yang ada membuat PDAM tidak bisa leluasa mengelola seluruh potensi air untuk kebutuhan pelayanan. Pengambilan air dari sumber juga dibatasi karena sebagian debit air harus tetap diperuntukkan bagi kebutuhan lainnya, termasuk sektor pertanian.

“Seharusnya sampai 80 persen, tetapi karena keadaan air kita, sumber kita juga berkurang. Dan ingat di situ ada PP, jadi semua sumber itu tidak boleh kita kelola sendiri. Maksimum itu sekitar 20 persen,” ujar Ramdhan,Senin 24/08/2026

Kondisi tersebut semakin terasa karena Kecamatan Tanjung dan Pemenang tidak memiliki sumber air yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan secara langsung. Sumber terdekat berada di wilayah Kecamatan Gangga.

Jarak sumber air dengan wilayah pelayanan juga menjadi persoalan tersendiri. Ramdhan menyebut jarak dari IPA menuju Pemenang mencapai sekitar 28 kilometer.

“Dua kecamatan ini kita tidak ada sumber, Kecamatan Tanjung dan Kecamatan Pemenang. Sementara jarak dari satu sumber kita, dari IPA sampai ke Pemenang saja sekitar 28 kilometer,” katanya.

Tak hanya persoalan jarak, PDAM juga tengah berupaya memahami kondisi geologi yang turut memengaruhi ketersediaan air di wilayah KLU. Sebelumnya, tim dari Universitas Brawijaya telah melakukan kajian terkait struktur tanah dan potensi sumber air.

Menurut Ramdhan, hasil kajian awal menunjukkan kondisi bawah permukaan tanah di KLU didominasi bebatuan batu apung yang dinilai tidak cukup kuat menampung air dalam jumlah besar.

“Universitas Brawijaya membuka data tentang struktur tanah kita. Ternyata tanah kita di KLU ini di bawahnya bebatuan batu apung, sehingga tidak kuat untuk menampung air yang ada,” ungkapnya.

Kajian kemudian dilanjutkan dengan penelitian lapangan yang melibatkan sejumlah profesor dan doktor dari bidang teknik keperairan. Penelitian dilakukan, salah satunya, yang berada di Kerakas untuk mencari akar persoalan dan potensi sumber air baru.

Meski hasil penelitian tersebut belum disampaikan kepada PDAM, pencarian sumber air tambahan tetap dilakukan.

Ramdhan menegaskan PDAM tidak berhenti mengandalkan sumber yang ada. Upaya mencari titik-titik baru terus dilakukan untuk menambah potensi air baku, terutama untuk mengejar kebutuhan pelayanan masyarakat di wilayah yang hingga kini belum sepenuhnya terjangkau.

“Kita terus melakukan pencarian untuk menambah potensi. Karena jujur saja, untuk saat ini, di Pemenang saja masih banyak yang belum kita bisa layani,” tegasnya.

Kondisi keterbatasan air daratan tersebut juga berdampak pada rencana pemenuhan kebutuhan air di kawasan tiga Gili. Ramdhan mengakui PDAM saat ini belum mampu membawa suplai air dari daratan menuju kawasan Gili.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan pembangunan pipa bawah laut, Ramdhan tidak menutup opsi tersebut. Menurutnya, semua alternatif masih dapat dibahas selama didukung kajian yang matang.

“Kalau saya mau bilang mustahil, ya silakan saja. Artinya yang penting ada kajian. Kita selalu membuka ruang, mau pipa bawah laut, mau visual atau apa pun namanya, mari silakan,” ujarnya.

Ramdhan menegaskan, belum tersedianya suplai air dari daratan menuju Gili bukan semata-mata disebabkan persoalan kerja sama dengan pihak tertentu. Faktor utama yang dihadapi saat ini adalah kemampuan sumber air daratan yang memang masih terbatas.

“Belum mampu. Belum mampu untuk dibawa ke laut,” katanya.

Ia juga mengingat kembali persoalan yang pernah terjadi pada 2016 ketika muncul wacana membawa air dari daratan untuk memenuhi kebutuhan tiga Gili. Saat itu, rencana tersebut mendapat persoalan di lapangan hingga menyebabkan kerugian miliaran rupiah dan pipa yang telah terpasang dibakar.

Menurut Ramdhan, pengalaman tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi pelayanan masyarakat di daratan yang saat itu masih banyak belum terpenuhi.

“Karena masyarakat di darat juga masih banyak yang belum terlayani,” pungkasnya.

Dengan kondisi tersebut, PDAM KLU kini menghadapi dua pekerjaan besar sekaligus: mencari sumber air baru dan memperluas jaringan pelayanan. Bagi PDAM, penambahan sumber air menjadi kunci sebelum memperluas cakupan pelayanan ke wilayah yang kebutuhan airnya terus meningkat, termasuk kawasan tiga Gili.(Niss)

Exit mobile version