Lombok Utara , SIARPOST – Keluhan warga terkait bau menyengat limbah udang di sejumlah lokasi pengolahan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) justru melahirkan sebuah solusi yang membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Lombok Utara, Tresnahadi, menjelaskan bahwa pelatihan pembuatan terasi tersebut merupakan program yang telah dirancang sejak tahun sebelumnya sebagai upaya pemberdayaan kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan (Poklahsar), termasuk perempuan pembudidaya udang vaname di wilayah pesisir. Menurutnya, Kabupaten Lombok Utara memiliki ketersediaan bahan baku udang yang melimpah sehingga perlu dioptimalkan melalui pengolahan yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Kita melihat bahwa kelompok-kelompok pengolah hasil perikanan, termasuk perempuan pembudidaya udang vaname, perlu terus diberdayakan. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan terasi karena bahan bakunya sangat melimpah di Lombok Utara,” ujar Tresnahadi.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut bertujuan membekali masyarakat dengan keterampilan mengolah udang yang tidak terserap pasar atau udang afkiran menjadi produk bernilai jual. Dengan kemampuan tersebut, masyarakat tidak hanya dapat memanfaatkan hasil olahan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpeluang memperoleh tambahan pendapatan.
“Kita ingin memberikan nilai tambah terhadap hasil perikanan yang ada. Jangan hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah terlebih dahulu agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan dapat meningkatkan pendapatan keluarga,” tegasnya.
Melalui Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Lombok Utara, puluhan perempuan yang mayoritas merupakan istri nelayan mengikuti pelatihan pembuatan terasi udang, Senin (15/6/2026). Pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan, tetapi juga menjadi langkah konkret mengubah limbah perikanan menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Sebanyak 43 peserta yang berasal dari tujuh kelompok, terdiri dari Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) serta kelompok pembudidaya udang vaname, terlibat langsung dalam praktik pembuatan terasi berbahan baku limbah udang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Plt Kepala Bidang Perikanan DKP3 KLU,I Putu Hery Suditha, mengungkapkan bahwa ide mengungkapkan bahwa ide pelatihan tersebut berawal dari laporan masyarakat mengenai pencemaran udara akibat pembuangan limbah udang.
“Awalnya kami menerima laporan masyarakat terkait bau yang ditimbulkan limbah udang. Setelah turun ke lapangan bersama pihak terkait, kami menemukan fakta bahwa limbah tersebut memang menjadi persoalan. Dari situ kami mulai berdiskusi mencari solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya, DKP3 sebelumnya telah mencoba memanfaatkan eco-enzyme yang diproduksi penyuluh pertanian di Kecamatan Pemenang untuk mengurangi bau limbah. Hasilnya cukup efektif. Namun, dari hasil diskusi lanjutan, ditemukan fakta bahwa limbah udang tersebut selama ini justru dikirim keluar daerah untuk diolah menjadi terasi.
Temuan itu kemudian memunculkan gagasan baru. Dengan keberadaan sedikitnya 16 tambak udang di Lombok Utara yang berpotensi menghasilkan limbah serupa, bahan baku tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah di daerah sendiri.














