Lombok Utara,SIARPOST – Upaya peningkatan literasi di daerah masih menghadapi tantangan serius, terutama soal keterbatasan anggaran. Meski indeks literasi daerah saat ini sudah berada di atas angka enam, capaian tersebut diakui belum memenuhi target nasional.
Kepala Dinas Kearsipan Daerah, Rusdianto, mengatakan mempertahankan bahkan meningkatkan indeks literasi ke depan membutuhkan kerja keras dan dukungan anggaran yang memadai. Menurutnya, kondisi fiskal saat ini membuat ruang gerak program literasi menjadi terbatas.
“Untuk literasi memang belum bisa memenuhi target nasional. Nilai kita sudah di atas enam, tapi untuk mempertahankan dan meningkatkan indeks itu butuh upaya keras dan dukungan anggaran,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Dinas Kearsipan tidak tinggal diam. Rusdianto menegaskan pihaknya terus mendorong kolaborasi dengan pemerintah desa, lembaga-lembaga terkait, hingga media massa guna menjaga budaya gemar membaca tetap berjalan.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Dengan kondisi anggaran yang terbatas, kolaborasi menjadi kunci, termasuk dengan teman-teman media untuk membantu menyosialisasikan gerakan gemar membaca,” katanya.
Terkait layanan pustaka keliling, Rusdianto menyebut program tersebut sebelumnya berjalan. Namun untuk tahun ini dan ke depan, pelaksanaannya masih bergantung pada kondisi dan kemungkinan pergeseran anggaran. Hingga saat ini, dana yang tersedia dinilai masih sangat minim.
Keterbatasan juga terlihat pada koleksi bahan bacaan. Idealnya, jumlah koleksi perpustakaan mencapai sekitar 40 persen dari jumlah penduduk. Namun saat ini, koleksi yang tersedia baru sekitar 15.000 judul, bukan eksemplar, sehingga masih jauh dari kebutuhan ideal.
Sebagai alternatif, Dinas Kearsipan mulai mengembangkan layanan berbasis digital melalui Pojok Baca Digital, yang telah tersedia di beberapa titik, termasuk di desa. Ke depan, direncanakan hadir di ruang-ruang publik, meski kembali bergantung pada dukungan anggaran.
“Kalau kita dapat anggaran besar, semua bisa jalan. Dapat seratus juta saja sebenarnya sudah bisa kita upayakan. Tapi saat ini, anggaran kita lebih banyak habis untuk kebutuhan rutin,” jelas Rusdianto.
Ia juga mengungkapkan keterbatasan fasilitas operasional, termasuk kendaraan pelayanan perpustakaan, yang hingga kini belum seluruhnya dapat dibiayai secara optimal.
Dengan kondisi tersebut, Rusdianto berharap ada perhatian lebih terhadap sektor literasi, mengingat perannya yang strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.(Niss)
Indeks Literasi Daerah di Atas Enam, Kadis Arsip Akui Anggaran Jadi Tantangan Utama














