Gubernur Iqbal Hadiri Purna Pugar Vihara Sutta Dhamma, Toleransi Lombok Utara Kian Menguat

Lombok Utara,SIARPOST — Bertambahnya jumlah umat dan meningkatnya aktivitas keagamaan menjadi alasan utama dilakukannya purna pugar Vihara Sutta Dhamma di Lombok Utara. Pembangunan ini menandai tumbuhnya kehidupan beragama sekaligus memperkuat wajah toleransi antarumat di daerah tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengaku terharu dan bangga dapat hadir langsung di peresmian vihara pada kamis 9/1/2026 di tengah umat Buddha pada momentum penting tersebut.

Ia menegaskan kehadirannya merupakan wujud nyata komitmen kepemimpinan yang adil dan inklusif bagi seluruh umat beragama.

“Setiap kali saya memohon doa kepada masyarakat, saya selalu meminta agar didoakan menjadi pemimpin yang amanah dan adil. Dalam Islam, keadilan adalah parameter utama kepemimpinan. Ketika keadilan hilang, maka hilang pula esensi kepemimpinan,” ujar Gubernur Iqbal.

Ia menegaskan pemerintah daerah harus hadir dan berlaku adil kepada seluruh umat beragama tanpa membedakan latar belakang keyakinan.

“Sebagaimana kami menyayangi umat Islam, demikian pula kami ingin menyayangi umat Buddha, Hindu, Kristiani, dan seluruh umat beragama lainnya. Inilah hakikat kepemimpinan,” tegasnya.

Menurut Iqbal, tingkat kesejahteraan masyarakat juga dapat tercermin dari kondisi rumah ibadah. Kemakmuran suatu komunitas, kata dia, kerap diekspresikan melalui pembangunan rumah ibadah yang layak dan representatif.

Sementara itu, Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh menjaga kesetaraan dan keadilan bagi seluruh umat beragama.

“Dalam melayani masyarakat Lombok Utara, tidak pernah ada istilah mayoritas dan minoritas. Semua umat memiliki kedudukan yang sama dan berkontribusi bagi pembangunan daerah,” tegas Najmul.

Ia menilai umat Buddha di Lombok Utara menunjukkan perkembangan yang signifikan, bahkan melahirkan bhiksu-bhiksu yang kini mengabdi di berbagai daerah di Indonesia.

“Tidak berlebihan jika kami mengatakan, dari Lombok Utara untuk Indonesia,” katanya.

Najmul juga menekankan bahwa toleransi tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan yang adil dan tidak diskriminatif.

Hal itu, menurutnya, tercermin dari diraihnya Anugerah Kabupaten Peduli Kerukunan Umat Beragama selama enam tahun berturut-turut.

Ia berharap Vihara Sutta Dhamma tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan umat di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Ketua Panitia Pembangunan, Endi Puspandi, mengatakan kapasitas vihara sebelumnya tidak lagi mampu menampung umat yang terus bertambah. Kondisi tersebut mendorong dilakukannya proses purna pugar yang berlangsung selama kurang lebih enam bulan.

“Total anggaran pembangunan sekitar Rp900 juta, ditambah dengan swadaya masyarakat. Dukungan datang dari berbagai pihak, mulai dari donatur inti, pemerintah, hingga masyarakat setempat,” ujar Endi.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh donatur serta masyarakat, khususnya umat Vihara Sutta Dhamma dan lingkungan sekitar, yang telah memberikan dukungan moril dan materil. Menurutnya, dedikasi panitia dan partisipasi umat menjadi faktor utama rampungnya purna pugar vihara tersebut.

Exit mobile version