Mataram, SIAR POST – Polemik donasi Rp1,5 miliar pasca evakuasi pendaki Brasil Juliana Marins di Gunung Rinjani kian memanas. Di tengah kritik relawan dan tokoh lokal, Agam Rinjani akhirnya angkat bicara dan membantah keras tudingan bahwa dirinya meminta donasi kepada platform VOAA atau warga Brasil.
Agam bahkan menantang siapa pun yang menuduhnya untuk membuktikan pernyataan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah menginisiasi penggalangan dana, apalagi meminta tambahan donasi.
“Saya tidak pernah minta donasi. Kalau ada yang bilang saya minta, silakan buktikan,” tegas Agam.
Ia mengungkapkan, pada awalnya justru menolak ketika pihak VOAA hendak memberikan donasi. Namun karena pihak penggalang dana bersikeras, ia akhirnya menerima sebagai bentuk apresiasi.
Agam juga meluruskan nominal donasi yang diterimanya. Menurutnya, total dana yang masuk ke rekening pribadinya sebesar Rp1,3 miliar karena sudah dipotong pajak, bukan Rp1,5 miliar seperti yang beredar.
Lebih jauh, Agam mengklaim tidak mengetahui besaran donasi tersebut hingga tiga pekan setelah proses evakuasi selesai. Dana itu, menurutnya, murni untuk apresiasi atas pengorbanan yang telah ia lakukan selama di gunung.
“Rencana saya dari awal, kalau ada donasi, mau saya belikan alat rescue dan satu motor trail seken. Kalau ada sisa, saya mau tanam pohon di Rinjani,” jelasnya.
Terkait tudingan sering meminta donasi dalam berbagai peristiwa penyelamatan, Agam menepis keras. Ia menyebut hanya pernah melakukan penggalangan dana saat gempa Lombok 2018 untuk pengadaan pipa air bersih bagi warga terdampak.
“Itu sekarang digoreng di media sosial. Ada pihak-pihak yang memang tidak suka dengan saya,” ujarnya.
Agam juga mengklaim sebagian dana telah digunakan untuk mendukung kegiatan sosial masyarakat setempat, termasuk biaya syukuran dan pemotongan sapi yang ia biayai secara pribadi.
Namun bantahan Agam tak serta-merta meredam kekecewaan relawan. Mereka menilai persoalan utama bukan semata soal siapa yang meminta donasi, melainkan transparansi, komunikasi, dan realisasi janji berbagi yang terlanjur disampaikan ke publik.
Polemik ini akhirnya berubah menjadi konflik narasi terbuka, antara klaim apresiasi personal dan tuntutan etika pengelolaan donasi kemanusiaan.
REDAKSI | SIAR POST














