‎Lombok Utara Tanam 3.007 Pohon Kurma, Bupati Siapkan Kebijakan hingga Pabrik‎


‎Lombok Utara,SIARPOST – Lombok Utara tak lagi sekadar bicara wacana. Sebanyak 3.007 pohon kurma telah ditanam sejak 2016 hingga 2024 dan tersebar di lima kecamatan: Gangga, Tanjung, Kayangan, Bayan, dan Pemenang. Dari jumlah itu, 224 pohon sudah berbuah, sementara lebih dari 500 pohon telah mengeluarkan mayang baik jantan maupun betina.

‎Kepala Dinas Pertanian Lombok Utara, Tresnadi, menegaskan, gerakan ini bukan sekadar program tanam simbolik ujarnya jumat 20/2/2026

‎“Hari ini kita berbicara bukan hanya tentang angka, tetapi tentang harapan, masa depan, dan potensi besar yang sedang tumbuh di Bumi Tioq Tata Tunaq. Kita tidak hanya ingin menanam dan memiliki pohon, tetapi ingin menghasilkan kualitas dan menjadi daerah penghasil kurma unggulan, bukan sekadar swasembada,” tegasnya.

‎Menurutnya, angka 3.007 pohon itu bahkan belum mencerminkan keseluruhan populasi. Masih banyak pohon kurma di pelosok desa yang belum terdata karena tumbuh secara masif. Fenomena ini semakin menguatkan optimisme bahwa Lombok Utara memiliki kecocokan agroklimat untuk komoditas tersebut.

‎Bupati Lombok Utara, menepis anggapan bahwa kurma identik dengan Timur Tengah.

‎“Kurma itu bukan Arab saja. Kurma juga tumbuh di Thailand, di Australia. Salah kalau kita mengidentikkan kurma dengan Arab. Alhamdulillah, kurma kita ini akan mempersamai potensi besar Lombok Utara seperti kopi, cengkeh, cokelat, vanili. Ini kekayaan baru Kabupaten Lombok Utara,” ujarnya.

‎Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa kurma diproyeksikan sejajar dengan komoditas unggulan lain, bukan sekadar tanaman alternatif.

‎Saat ditanya soal langkah konkret pasca deklarasi kurma sebagai ikon daerah, Bupati memastikan tidak akan berhenti pada seremoni.

‎“Deklarasi ini pasti akan kita ikuti dengan kebijakan. Kita akan menganggarkan, agar kurma ini benar-benar menjadi ikon Lombok Utara. Tidak fair kalau hanya deklarasi lalu kita tinggalkan. Pemda akan melakukan sesuatu untuk mengembangkan kurma ini.”

‎Rencana jangka panjang bahkan menyentuh sektor manufaktur. Ketika ditanya kemungkinan pabrik pengolahan kurma, Bupati menjawab optimistis.

‎“Sangat memungkinkan ke depan. Kita tanam dulu, pabriknya belakangan. Brida mendukung, BRIN juga mendukung, dan iklim tropis kita sangat mendukung.”

‎Ia menambahkan, lahan kering yang selama ini dianggap hambatan justru akan dimanfaatkan sebagai peluang strategis.

‎Tak berhenti di kebun rakyat, Pemda juga membuka peluang kebijakan penanaman kurma di kantor-kantor pemerintahan dan sekolah.

‎“Ke depan mungkin di semua kantor dan sekolah juga kita akan tanam pohon kurma. Nanti tentu diikuti petani. Akan kita bina, kita bimbing, kita fasilitasi teknologinya, pemasarannya, dan sebagainya.”

‎Untuk target 2025, Pemda belum berbicara angka pasti. Fokus saat ini adalah membangun gagasan besar dan optimisme bersama.

‎“Sekarang kita bicara ide besarnya dulu. Saya dan Pak Wakil Bupati mendeklarasikan kurma menjadi salah satu ikon Lombok Utara ke depan.”

‎Dengan 224 pohon yang telah berbuah dan ratusan lainnya siap produktif, Lombok Utara mulai memasuki fase baru: dari sekadar penanaman menuju produksi dan hilirisasi. Jika konsisten, kurma bukan hanya ikon tetapi bisa menjadi identitas ekonomi baru Bumi Tioq Tata Tunaq.(Niss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *