Angin Kencang Rusak Tenda Bazar, 22 UMKM Tetap Panen Omzet Jutaan di Tengah Ramadan

Lombok Utara, SIARPOST– Cuaca ekstrem berupa angin kencang disertai hujan sempat membuat sejumlah tenda bazar UMKM di Kabupaten Lombok Utara (KLU) roboh dan rusak. Namun, kondisi itu tak menyurutkan semangat para pelaku usaha kecil untuk tetap berjualan dan meraup omzet jutaan rupiah per hari. Rabu, 25/02/26.

Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Lombok Utara, Harianto, mengakui satu terop mengalami kerusakan cukup parah hingga tak bisa difungsikan kembali. Beberapa tenda lainnya juga terdampak, meski sebagian sudah berhasil diperbaiki.

“Karena angin kencang dan hujan, tenda kita sempat roboh. Satu terop rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Yang lain sudah kita servis. Gapura juga kita lepas dulu, paranet kita tarik supaya lebih aman,” jelasnya.

Awalnya, panitia memasang 10 tenda dan 2 terop, dilengkapi payung, untuk menampung 22 UMKM yang mayoritas bergerak di sektor kuliner. Selain itu, ada juga pelaku usaha yang menjual produk kemasan, termasuk olahan belut.

Namun, memasuki momentum event Lentera Ramadan, pihaknya memilih membongkar sebagian tenda dan hanya menyisakan payung sebagai peneduh. Langkah ini diambil agar tidak terkesan “menyaingi” kegiatan Ramadan tersebut.

“Selama Lentera Ramadan, kemungkinan tenda kita bongkar dulu. Kita siapkan payung saja. Banyak teman-teman UMKM juga ikut di Lentera, jadi kita tidak ingin terkesan bersaing,” ujarnya.

Saat ini, tersisa sekitar 7 hingga 8 tenda dan satu terop yang masih terpasang. Namun dalam waktu dekat akan dibongkar untuk menghindari kekosongan lokasi yang berpotensi sulit dikendalikan.

Di balik kendala cuaca dan keterbatasan fasilitas, antusiasme UMKM justru menunjukkan hasil menggembirakan. Dengan konsep swadaya dan gotong royong tanpa suntikan anggaran besar, bazar tersebut mampu mendongkrak pendapatan pelaku usaha secara signifikan.

“Budget kita sangat minim, hampir tidak ada anggaran khusus. Kita pakai peralatan yang ada di kantor. Tapi luar biasa, ini benar-benar kebutuhan dari bawah. Omzet mereka ada yang sampai Rp3 juta, Rp4 juta, bahkan Rp5 juta sehari. Dari sore sampai menjelang magrib. Rata-rata dagangan habis,” ungkap Harianto.

Ia menegaskan, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa UMKM di KLU memiliki daya tahan dan potensi besar jika diberi ruang dan dukungan yang tepat. Meski fasilitas sederhana dan diterpa cuaca buruk, semangat kolektif dan gotong royong mampu menggerakkan roda ekonomi rakyat secara nyata.

Setelah rangkaian Lentera Ramadan berakhir, Diskoperindag KLU berencana kembali mengevaluasi dan memprospekkan pemasangan tenda bazar secara lebih permanen dan tertata.

Di tengah terpaan angin dan hujan, UMKM KLU justru membuktikan bahwa ketahanan usaha bukan soal kemewahan fasilitas, melainkan soal kemauan untuk terus bergerak.(Niss)

Exit mobile version