Sumbawa, NTB (SIAR POST) | Duka mendalam masih menyelimuti Kabupaten Sumbawa atas gugurnya anggota Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan), M. Solikin bin Abdullah, saat menjalankan tugas mulia memadamkan kebakaran di Desa Kalimango, Kecamatan Alas, Minggu (22/3/2026) dini hari.
Pemerintah Daerah (Pemda) Sumbawa memastikan akan memberikan santunan serta memenuhi seluruh hak almarhum sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan pengorbanannya.
Kepala Dinas Damkartan Sumbawa, H. Sahabuddin, menegaskan bahwa perhatian penuh dari pemerintah tidak hanya dalam proses penanganan jenazah, tetapi juga berlanjut kepada keluarga yang ditinggalkan.
“Sejak kabar duka ini kami terima, pemerintah daerah langsung bergerak. Mulai dari penanganan di lokasi hingga memastikan jenazah almarhum tiba dengan layak di rumah duka. Hak-hak dan santunan juga akan kami kawal,” ujarnya.
Jenazah almarhum tiba di rumah duka di Lingkungan Kebayan, Kelurahan Brang Biji, Kecamatan Sumbawa, disambut isak tangis keluarga, rekan kerja, dan warga yang telah menanti.
Suasana haru pecah saat petugas membawa pulang sosok yang selama ini dikenal sebagai garda terdepan dalam setiap peristiwa kebakaran.
Peristiwa tragis itu bermula sekitar pukul 02.00 WITA, ketika kebakaran hebat melanda permukiman warga di Desa Kalimango. Api dengan cepat membesar dan mengancam rumah-rumah warga, memicu kepanikan di tengah malam.
Dalam situasi tersebut, M. Solikin yang menjabat sebagai Komandan Regu (Danru) langsung turun bersama timnya. Ia berada di barisan terdepan, memimpin upaya pemadaman sekaligus membantu warga menyelamatkan diri dan harta benda.
Namun di tengah upaya heroik itu, musibah terjadi. Saat berjibaku dengan kobaran api, almarhum mengalami insiden yang menyebabkan dirinya gugur di lokasi kejadian.
Selama 16 tahun pengabdian sejak 2010, almarhum dikenal sebagai sosok disiplin, tangguh, dan tidak pernah mundur dari tugas. Dedikasinya mengantarkannya dari tenaga honor hingga diangkat sebagai P3K pada 2023.
Kepergian pria kelahiran 1989 itu meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi jajaran Damkartan dan masyarakat Sumbawa secara luas.
Pemda berharap santunan yang diberikan dapat sedikit meringankan beban keluarga, sekaligus menjadi bentuk penghargaan atas jasa almarhum yang telah mengorbankan nyawanya demi keselamatan orang lain.
M. Solikin kini telah kembali kepada Sang Pencipta, namun jejak pengabdiannya akan selalu dikenang sebagai simbol keberanian dan ketulusan seorang pelindung masyarakat. (Red).














