MATARAM, SIAR POST | Tidak heran jika Belanda merasa merugi alias tidak menerima kemerdekaan Indonesia sehingga melakukan agresi pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah sumber daya alam Indonesia yang sangat menjanjikan. Ialah tanah, sebagai tempat memproduksi dan tersimpannya kebutuhan bahan baku industri, baik industri pangan, tekstil ataupun energi.
Perkembangan dan kemajuan teknologi yang terus melaju tak bisa dibendung. Ada yang berbasis kebutuhan ada juga yang berbasis keinginan dan ambisi.
Prabowo menyebutnya Serakahnomics. Mereka tidak punya negara. Mereka hanya punya ambisi dan keserakahan untuk menguasai aset.
Awal tahun ini Venezuela di perlakukan dengan cukup kasar dan menginjak-injak harga diri suatu bangsa yang berdaulat. Tengah malam, Maduro, Presiden Venezuela bersama istrinya di jemput paksa oleh Otoritas AS. Meski alasan tentang peredaran narkoba, AS tetap memaksakan kehendaknya untuk ingin menguasai minyak di Venezuela.
Berikutnya, timur tengah jadi target. Tentu Iran bukanlah negara yang mudah dipatahkan begitu saja. Betapa tidak, Trump bermaksud mengambil alih minyak, namun sebetulnya bukan melawan Ali Khomeini, mereka melawan peradaban yang telah sangat-sangat lama menorehkan sejarah besar dalam catatan peristiwa dan dominasi kekuasaan di dunia.
Ketahanan adalah naik kelas dari efisiensi
Efek dari kekisruhan di timur tengah hari ini berefek pada tidak stabilnya harga minyak dunia. Asia dan negara tetangga mengumumkan kenaikan harga BBM akibat dari kekisruhan di timur tengah karena taktik Iran yang memperketat Selat Hormuz sebagai jalur lintasan kapal-kapal besar muatan bahan baku industri dan energi.
Beruntungnya, Indonesia memiliki kecukupan nilai tawar di mata dunia dalam berdiplomasi. Sawit, Logam tanah jarang, nikel, tembaga, logam mulia, dan mineral lainnya, Indonesia punya itu. Apalagi bahan pangan, jangan tanya lagi.
Sebenarnya kita swasembada pangan bukan hanya di jaman pak Harto atau jaman sekarang yang dipimpin Pak Prabowo. Hanya saja ulah birokrat bermental korup yang senang impor, padahal stok melimpah.
Selain kemampuan untuk memproduksi pangan, sebetulnya kita juga bisa mandiri energi tanpa harus berlebihan mengeksploitasi energi bumi tidak terbarukan, yang cendrung merusak lingkungan.
Sehingga keberlangsungan lingkungan bisa beriringan dengan pemenuhan kesejahteraan rakyatnya.
Jika pemerintah atau pengepul dan perusahaan pakan sering beralasan surplus stok jagung adalah penyebab harga beli jagung menurun, maka opsi tambahan pemanfaatan jagung bisa digunakan untuk menambah produk hilir lainnya yaitu produk di bidang energi berupa Bahan Bakar Nabati, Bioetanol.
