Lombok utara SIARPOST_Krisis air bersih di Dusun Gili Meno, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, kembali membuka satu persoalan lama: ketika perdebatan teknis berlangsung panjang, masyarakat justru masih hidup dalam keterbatasan air bersih.
Sorotan itu menguat setelah warga melakukan aksi protes terhadap kondisi layanan air di wilayah tersebut. Menanggapi hal itu, Direktur Perumda Amerta Dayan Gunung, Ramdhan Jayadi, menegaskan bahwa kebutuhan dasar masyarakat tidak boleh dikorbankan hanya karena tarik-menarik pilihan metode distribusi air.
Menurut Ramdhan, seluruh opsi teknis seharusnya dibuka dan diuji secara objektif, bukan dipertentangkan seolah hanya ada satu solusi yang benar. Ia menyebut berbagai metode seperti pipa bawah laut, SWRO, beach well hingga sistem darurat perlu dikaji berdasarkan efektivitas dan kebutuhan riil masyarakat.
“Air bukan barang mewah. Ini kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi,” ujarnya, Kamis (21/05/2026).
Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa persoalan air di Gili Meno tidak lagi bisa dipandang semata sebagai perdebatan proyek atau teknologi, melainkan soal kecepatan negara hadir menjawab kebutuhan warga.
Ramdhan menilai, perbedaan pandangan teknis seharusnya tidak membuat masyarakat terus menunggu tanpa kepastian layanan. Baginya, yang terpenting bukan metode mana yang paling banyak diperdebatkan, tetapi bagaimana air bersih benar-benar bisa sampai ke rumah warga.
“Yang tidak boleh adalah membiarkan warga tetap tanpa layanan hanya karena kita berbeda pilihan teknis,” tegasnya.
Ia juga memastikan PDAM KLU membuka ruang dialog dengan seluruh pihak, mulai dari warga, pemerintah desa, DPRD, pemerintah daerah, pemerhati lingkungan hingga otoritas teknis guna mencari formulasi terbaik untuk penanganan krisis air di Gili Meno.
Menurutnya, setiap opsi perlu diuji berdasarkan data yang objektif, mencakup aspek legalitas, dampak lingkungan, biaya pelayanan, keberlanjutan sistem hingga kecepatan distribusi kepada masyarakat.
Ramdhan menegaskan, jika memang ada dugaan persoalan lingkungan dalam salah satu metode penanganan, maka hal itu perlu diuji secara terbuka oleh lembaga berwenang. Namun ia mengingatkan agar polemik tersebut tidak berujung pada terhambatnya pelayanan air bersih bagi masyarakat.
“Jangan sampai isu itu membuat warga Meno terus menunggu air bersih,” katanya.
Di tengah perdebatan yang terus berkembang, satu hal yang kini menjadi perhatian publik adalah bagaimana seluruh pihak dapat segera menemukan titik temu. Sebab bagi warga Gili Meno, solusi terbaik bukan sekadar konsep teknis di atas meja, melainkan air yang benar-benar mengalir setiap hari.(Niss)
