Kritik serupa juga muncul dari akun media sosial Syahrul yang mengunggah video memperlihatkan momen ketika Bupati Dompu dan mahasiswa saling menunjuk di dalam ruang audiensi sebelum bupati meninggalkan ruangan.
Dalam keterangannya, Syahrul menulis bahwa ketegasan memang merupakan kualitas seorang pemimpin, namun temperamen yang meledak-ledak bukanlah tanda kewibawaan.
“Rakyat membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengendalikan emosi, mendengar kritik, dan mengambil keputusan dengan kepala dingin,” tulisnya.
Peristiwa tersebut kini menjadi perhatian publik. Di satu sisi, Pemerintah Kabupaten Dompu menegaskan bahwa tindakan Bupati merupakan respons atas situasi yang menurut mereka telah diawali dengan tindakan tidak tertib di ruang rapat.
Di sisi lain, rekaman video yang beredar memunculkan perdebatan mengenai etika komunikasi antara pemimpin daerah dan mahasiswa dalam menyampaikan maupun menerima aspirasi.
Hingga berita ini ditulis, video peristiwa tersebut masih ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial dengan beragam tanggapan dari masyarakat. (Red).














