NUSA TENGGARA TIMUR, SIAR POST — Dari Sumbawa Barat menuju Nusa Tenggara Timur, langkah para relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) bukan sekadar perjalanan menempuh jarak. Di balik perjalanan panjang tersebut, ada panggilan kemanusiaan untuk hadir, membantu, dan memberikan harapan bagi masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit akibat bencana gempa bumi.
Perjalanan menuju lokasi terdampak menjadi bagian tersendiri dari perjuangan para relawan. Jarak antar titik yang cukup jauh, medan yang menantang, hingga akses menuju sejumlah wilayah yang tidak mudah dilalui, harus mereka hadapi untuk bisa menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Tidak jarang, perjalanan harus melewati kawasan pegunungan dengan medan yang berliku. Setelah menempuh jalur darat, para relawan juga harus menyebrangi sungai dan menyeberangi lautan untuk berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Bagi sebagian orang, perjalanan tersebut mungkin melelahkan. Namun bagi para relawan, setiap kilometer yang ditempuh memiliki tujuan: memastikan bantuan dan pelayanan kesehatan dapat sampai kepada masyarakat yang terdampak bencana.
Barang-barang kebutuhan medis, logistik, dan perlengkapan pelayanan kesehatan dibawa bersama dalam perjalanan. Rasa lelah, waktu istirahat yang terbatas, serta kondisi medan yang tidak selalu bersahabat menjadi bagian dari konsekuensi ketika memilih untuk berada di garis depan pelayanan kemanusiaan.
Sesampainya di lokasi, perjalanan panjang itu seakan terbayarkan ketika para relawan bertemu langsung dengan masyarakat. Ada warga yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan, ada yang membutuhkan obat-obatan, dan ada pula yang sekadar ingin didengarkan setelah melewati hari-hari penuh kecemasan akibat bencana.
Koordinator Tim Medis BSMI KSB, drg. Eris Bashiroh, FISQua mengatakan bahwa tantangan perjalanan menjadi bagian dari proses pengabdian yang harus dijalani para relawan.
“Perjalanan menuju lokasi memang tidak mudah. Kami harus menempuh jarak yang jauh, berpindah dari satu titik ke titik lainnya, melewati pegunungan, menyeberangi sungai dan laut. Tetapi semua itu kami jalani karena ada masyarakat yang menunggu dan membutuhkan pelayanan kesehatan,” ujar drg. Eris.
Menurutnya, rasa lelah selama perjalanan tidak sebanding dengan kebahagiaan ketika melihat masyarakat mendapatkan pelayanan.
“Ketika melihat masyarakat tersenyum setelah mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan, rasanya semua lelah selama perjalanan terbayarkan. Kami datang bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ingin memastikan saudara-saudara kita di sini tahu bahwa mereka tidak sendiri,” tambahnya.
Ia menjelaskan, tim medis berupaya memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Selain pemeriksaan dan pengobatan, kehadiran relawan juga menjadi bagian dari upaya memberikan dukungan moril kepada masyarakat yang tengah menghadapi trauma dan ketidakpastian pascabencana.
“Bagi kami, satu orang yang merasa terbantu sudah menjadi alasan yang cukup untuk terus bergerak. Semoga keberadaan kami dapat sedikit meringankan beban masyarakat dan memberikan semangat bahwa mereka tidak sendiri menghadapi kondisi ini,” ungkapnya.
Perjalanan kemanusiaan BSMI KSB menjadi gambaran bahwa pelayanan kepada penyintas bencana tidak selalu berlangsung dalam kondisi yang mudah. Ada proses panjang yang harus dilewati sebelum seorang relawan dapat berdiri di hadapan masyarakat dan memberikan pertolongan.
Dari perjalanan darat yang panjang, melewati jalur pegunungan, menyebrangi sungai, hingga menyeberangi laut, semuanya menjadi bagian dari cerita pengabdian para relawan.
Setiap kali kendaraan berhenti di satu titik, perjalanan belum tentu selesai. Masih ada titik lain yang harus dijangkau. Masih ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Dan masih ada harapan yang harus dijemput.
Ketua Umum BSMI Kabupaten Sumbawa Barat, dr. Deddy Zulkarnaen, Sp.PD, menyampaikan bahwa pengiriman tim medis dan bantuan ke NTT merupakan wujud nyata semangat BSMI dalam menjalankan misi kemanusiaan.
Menurutnya, bencana tidak mengenal batas wilayah. Karena itu, kepedulian juga tidak boleh dibatasi oleh jarak.
“Kita mungkin dipisahkan oleh pulau dan jarak yang cukup jauh, tetapi dalam urusan kemanusiaan kita adalah satu. Ketika saudara kita di NTT mengalami musibah, maka menjadi kewajiban moral bagi kita untuk hadir sesuai dengan kemampuan yang kita miliki,” ungkap dr. Deddy.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh relawan yang telah bersedia meninggalkan kenyamanan dan meluangkan waktu untuk bergabung dalam misi kemanusiaan tersebut.
“Terima kasih kepada seluruh tim yang telah berangkat, para donatur, masyarakat, dan semua pihak yang ikut membantu. Bantuan yang diberikan mungkin tidak menghapus seluruh kesedihan akibat bencana, tetapi semoga menjadi tanda bahwa masih banyak tangan yang terulur dan hati yang peduli,” katanya.
Di tengah suasana duka dan keterbatasan akibat bencana, kehadiran tim medis BSMI KSB disambut hangat oleh masyarakat. Bagi para penyintas, pelayanan kesehatan yang diberikan bukan hanya tentang obat dan pemeriksaan medis, tetapi juga tentang perhatian dan kepedulian yang mereka rasakan.
Salah seorang perwakilan masyarakat penyintas gempa menyampaikan rasa terima kasih kepada para relawan yang telah datang dari jauh untuk membantu mereka.
“Kami sangat berterima kasih kepada bapak dan ibu relawan yang sudah datang jauh-jauh ke sini. Kami tahu perjalanan dari Sumbawa Barat tidak dekat. Bapak dan ibu harus menempuh perjalanan panjang, melewati laut dan berbagai medan untuk sampai kepada kami. Tetapi semua itu dilakukan untuk membantu kami,” tuturnya.
Menurutnya, kehadiran para relawan memberikan kekuatan tersendiri bagi masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari bencana.
“Bagi kami, kehadiran bapak dan ibu bukan hanya membawa obat atau bantuan. Kehadiran ini membawa harapan. Kami merasa masih ada yang peduli dan masih ada saudara yang mau datang melihat keadaan kami secara langsung,” ujarnya.
Ia pun berharap kondisi masyarakat segera pulih dan kehidupan dapat kembali berjalan seperti sediakala.
“Kami tidak bisa membalas apa yang sudah diberikan. Kami hanya bisa mendoakan semoga semua relawan selalu diberikan kesehatan, keselamatan dan kemudahan dalam setiap perjalanan. Semoga kebaikan yang dibawa ke tempat kami ini kembali kepada bapak dan ibu dalam bentuk kebaikan yang jauh lebih besar,” lanjutnya.
Bagi masyarakat, perjalanan panjang para relawan menjadi bukti bahwa persaudaraan dan kemanusiaan tidak mengenal batas daerah.
Dari KSB menuju NTT, para relawan tidak hanya membawa bantuan. Mereka membawa kepedulian, membawa semangat persaudaraan, dan membawa pesan bahwa di tengah bencana sekalipun, selalu ada tangan yang bersedia menolong dan selalu ada harapan untuk bangkit.
Perjalanan boleh panjang, medan boleh menantang, laut dan sungai boleh menjadi penghalang. Namun ketika niatnya adalah kemanusiaan, langkah akan selalu menemukan jalannya.
Dari Sumbawa Barat untuk NTT, satu perjalanan panjang telah menjadi cerita tentang kepedulian yang menembus jarak dan harapan yang terus dinyalakan di tengah bencana. (Red)














