Bertahun-tahun Menabung Demi Umrah, Warga Dompu dan Bima Pulang dengan Luka dan Kekecewaan Diduga Ditipu PT Indah Harmain

MATARAM, SIARPOST – Uang hasil bertani, berjualan buah, hingga menjual lahan menjadi bagian dari perjuangan sejumlah warga Kabupaten Dompu dan Bima untuk mewujudkan impian beribadah ke Tanah Suci. Namun, harapan yang mereka bangun selama bertahun-tahun itu harus berhadapan dengan kenyataan pahit setelah keberangkatan umrah yang dijadwalkan pada 28 September 2026 gagal terlaksana.

Bagi sebagian calon jemaah, perjalanan umrah bukan sekadar rencana berlibur ke luar negeri. Mereka mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, menyisihkan hasil usaha dan pendapatan keluarga, demi bisa beribadah di Tanah Suci ketika usia masih memungkinkan.

Kini, puluhan calon jemaah itu justru menghadapi ketidakpastian. Mereka berharap uang yang telah disetorkan dapat kembali agar impian yang tertunda tidak benar-benar hilang.

Samsudin Arifin, calon jemaah asal Desa Wawonduru, Kabupaten Dompu, mengaku sangat terpukul atas kejadian yang dialaminya bersama para jemaah lain.

Ia mengatakan, uang untuk biaya umrah dikumpulkan melalui proses panjang. Ada yang menabung dari hasil pertanian, ada yang menjalankan bisnis buah, bahkan ada yang menjual lahan demi memenuhi biaya perjalanan.

“Saya selama ini menabung untuk berangkat umrah. Teman-teman yang lain juga begitu. Ada yang menjual lahan, ada yang dari hasil pertanian, ada yang berbisnis buah,” kata Samsudin saat menceritakan pengalamannya.

Bagi mereka, uang tersebut bukan sesuatu yang mudah diperoleh. Setiap rupiah dikumpulkan dengan harapan suatu hari bisa menunaikan ibadah yang telah lama diimpikan.

Menabung Sedikit demi Sedikit, Berakhir dengan Penantian

Samsudin mengungkapkan, ada calon jemaah yang mengumpulkan biaya umrah dari hasil berjualan sayuran dan buah nangka. Penghasilan yang tidak selalu besar itu disisihkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.

Karena itu, gagalnya keberangkatan tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi para calon jemaah.

Menurut Samsudin, sebagian jemaah merasa malu kepada keluarga dan tetangga setelah rencana keberangkatan mereka gagal. Mereka sebelumnya telah mempersiapkan diri untuk menjalani ibadah, tetapi akhirnya harus kembali tanpa sampai ke Tanah Suci.

“Kami sangat sedih dan terpukul. Kami juga merasa malu kepada keluarga dan tetangga karena kejadian ini,” ujarnya.

Ia bahkan menceritakan adanya calon jemaah yang lebih tua yang sempat pingsan setelah mengalami kekecewaan berat. Peristiwa itu, menurut Samsudin, memperlihatkan betapa besar beban yang dirasakan sebagian jemaah setelah perjuangan panjang mereka tidak berakhir sesuai harapan.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan perjalanan umrah ini tidak bisa dilihat hanya dari angka kerugian. Ada harapan, pengorbanan, dan waktu bertahun-tahun yang ikut dipertaruhkan.

Menunggu Kepastian Pengembalian Uang

Di tengah kekecewaan itu, para calon jemaah masih menyimpan harapan agar uang yang telah mereka bayarkan bisa dikembalikan.

Samsudin mengatakan, dirinya dan jemaah lainnya tetap ingin menunaikan ibadah umrah. Namun, mereka membutuhkan kepastian mengenai nasib uang yang telah dikumpulkan dengan susah payah.

“Harapan kami uang itu bisa kembali supaya kami bisa berangkat umrah. Apalagi usia kami sudah tidak muda lagi,” tuturnya.

Sebelumnya, PT Taufik Haji dan Umrah (THU) melaporkan dugaan penipuan dan penggelapan dana perjalanan umrah ke Polda NTB. Laporan tersebut berkaitan dengan gagalnya keberangkatan 58 calon jemaah dan dana yang dipersoalkan mencapai Rp1.459.200.000.

Pihak PT THU melalui kuasa hukumnya sebelumnya menyatakan bahwa dana tersebut telah disetorkan kepada PT Indah Harmain Anugrah untuk kebutuhan perjalanan umrah. Persoalan tiket yang disebut tidak tersedia menjadi salah satu pokok yang dipersoalkan dalam laporan tersebut.

Samsudin menyampaikan, empat calon jemaah, terdiri atas dua orang dari Dompu dan dua orang dari Bima, telah memberikan keterangan kepada penyidik. Ia juga menyebut lima hingga enam calon jemaah lainnya direncanakan menyusul untuk menyampaikan kesaksian.

Para jemaah berharap keterangan mereka dapat membantu penyidik mengungkap persoalan yang menyebabkan keberangkatan gagal dan memperjelas pihak yang harus bertanggung jawab.

Bagi Samsudin dan para calon jemaah lainnya, perkara ini menyangkut lebih dari sekadar uang. Mereka telah mengorbankan hasil kerja bertahun-tahun untuk memenuhi impian beribadah sebelum usia semakin lanjut.

Karena itu, mereka berharap proses hukum berjalan hingga memberikan kejelasan mengenai nasib dana yang telah disetorkan.

Mereka juga berharap pihak yang terbukti bertanggung jawab dapat diproses sesuai hukum sehingga tidak ada calon jemaah lain yang mengalami nasib serupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *