Ramai Soal Identitas Budaya Dompu, Guru Besar Unram dan Tokoh Perempuan Berikan Tanggapan Menarik

Dompu, SIAR POST — Ajakan Bupati Dompu, Bambang Firdaus, agar masyarakat semakin mencintai dan bangga terhadap identitas budaya Dompu mendapat respon positif dari para tokoh masyarakat dan tokoh intelektual Dompu.

Sebelumnya, dua tokoh Dompu yakni Ketua Yayasan Kesultanan Dompu H. Syaiful Islam dan Ridwansyah juga telah memberikan tanggapan positif.

Kini, giliran dua tokoh Dompu lainnya ikut angkat bicara dan memberikan pandangan konstruktif.

Dalam tulisannya, tokoh Dompu sekaligus akademisi, Prof. Dr. Ir. H. A. Farid Hemon, MSc., Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian Universitas Mataram (UNRAM), menilai pernyataan Bupati Dompu menunjukkan komitmen pemimpin daerah (Ompu Rasa) untuk memotivasi masyarakat membangun daerahnya, terutama dalam bidang sosial dan budaya.

Menurutnya, warisan budaya dan sosial yang telah terpatri sejak lama di masyarakat Dompu merupakan modal penting dalam pembentukan karakter daerah.

Sejarah Dompu, jelasnya, telah berakar sejak masa Kerajaan Dompu yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-12, bahkan disebut dalam Sumpah Palapa Gajah Mada pada tahun 1336.

Nama Dompu (dulu disebut Dompo) juga tercatat dalam naskah Jawa Kuno seperti Nagarakretagama tahun 1365 M.

Suku Dompu, kata Farid, adalah kelompok sosial yang memiliki kesamaan budaya, bahasa, asal-usul, agama, dan sejarah yang membedakannya dari kelompok lain. Identitas ini membentuk kesatuan hidup dan nilai-nilai sosial budaya yang khas.

Ia juga mengutip Zulyani Hidayah (2015) dalam buku Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia yang menjelaskan bahwa suku Dompu mendiami wilayah timur Pulau Sumbawa, termasuk bagian utara Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Nilai luhur masyarakat Dompu sangat dikenal melalui falsafah “Nggahi Rawi Pahu”, yang berarti bahwa setiap ucapan harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan bermanfaat.

Farid juga menyoroti sistem pertanian tradisional suku Dompu yang sudah berkembang sejak abad ke-14. Sistem ini awalnya berbasis subsisten dan memanfaatkan lahan tadah hujan, dengan dukungan kearifan lokal serta pemanfaatan bahan alami.

Dompu juga dikenal dengan lumbung padi tradisional bernama Uma Jompa, serta tradisi peternakan kerbau di padang penggembalaan terbuka. Pada masa itu, sistem pertanian masyarakat Dompu dikoordinir oleh para Ncuhi atau kepala wilayah lokal.

Melalui tulisannya, Farid ingin menegaskan bahwa suku Dompu memiliki sejarah panjang, identitas kuat, serta sistem sosial-budaya yang telah membentuk karakter masyarakat hingga saat ini.

Respon positif juga datang dari tokoh Dompu sekaligus mantan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi NTB, Hj. Hartina, atau yang akrab disapa Paca Tari. Saat diwawancarai melalui telepon, Senin (5/1/2026), ia menyampaikan apresiasi terhadap pernyataan Bupati Dompu.

“Saya sangat mengapresiasi pernyataan Bupati Dompu. Sudah saatnya kita mempertegas dan mendapatkan pengakuan bahwa suku Dompu itu ada dan tersendiri, bukan bayang-bayang. Ini bukan hanya identitas, tetapi juga memperkaya khasanah budaya bangsa secara keseluruhan, karena Dompu memiliki kearifan lokal khas tersendiri,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat Dompu menjunjung tinggi semboyan ‘Nggahi Rawi Pahu’ sebagai komitmen menjaga integritas antara ucapan dan tindakan.

Ia menilai, langkah Bupati yang mempertegas identitas suku Dompu justru bertujuan menjaga persatuan melalui penguatan budaya.

“Saya kira dengan pengakuan adanya suku Dompu tidak akan menimbulkan perpecahan atau dampak negatif. Justru akan memunculkan hal positif, terutama bagi masyarakat Dompu agar lebih mandiri, percaya diri, serta semakin menggali dan menjaga tradisi dan karakteristik lokal yang diwariskan oleh nenek moyang,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *