Lombok Utara, SIARPOST– Sedikitnya 30 siswa Sekolah Dasar di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, harus mendapatkan penanganan medis setelah diduga mengalami keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (11/2). Para siswa dilarikan ke Puskesmas Nipah setelah mengalami gejala mual dan muntah usai menyantap makanan yang dibagikan di sekolah.
Informasi yang dihimpun, kejadian pertama kali dilaporkan terjadi di SDN 2 Malaka. Para siswa mulai mengeluhkan kondisi tubuh tidak nyaman beberapa saat setelah mengonsumsi MBG yang disuplai dari dapur MBG Dusun Pandanan.
Kepala Desa Malaka, Akmaludin Ichwan, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyebut sejumlah siswa mengalami muntah-muntah dan langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan cepat.
“Ya, benar ada siswa yang mengalami muntah-muntah setelah menerima MBG. Untuk sementara tercatat sekitar 20 siswa dari SDN 2 Malaka yang terdampak dan langsung dibawa ke Puskesmas,” ujarnya.
Namun jumlah siswa yang mendapat perawatan terus bertambah. Puskesmas Nipah mencatat total ada 30 siswa yang menjalani penanganan medis dengan keluhan serupa. Meski begitu, tidak ada korban yang sampai kehilangan kesadaran.
Akmaludin berharap kejadian ini menjadi perhatian serius bagi pengelola dapur MBG agar memperketat proses pengolahan dan distribusi makanan. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara penyedia MBG, pemerintah desa, dan pihak sekolah.
“Kami berharap ke depan ada komunikasi dan koordinasi yang lebih baik, supaya kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Nipah, Iin Puspitaningrum, mengatakan kasus tersebut masih berstatus dugaan keracunan dan dalam tahap penyelidikan medis. Untuk memastikan penyebabnya, pihaknya telah mengirim sampel makanan serta muntahan siswa ke laboratorium provinsi.
“Masih diduga. Sampel makanan dan muntahan sudah kami kirim ke laboratorium provinsi untuk diperiksa lebih lanjut,” jelasnya.
Menurut Iin, begitu para siswa tiba di puskesmas, tim medis langsung melakukan penanganan darurat sesuai prosedur. Pihaknya juga masih melakukan pemantauan kondisi seluruh siswa yang terdampak sambil menunggu hasil uji laboratorium.(Niss)














