MATARAM, SIAR POST – Kisah inspiratif datang dari kontingen Kick Boxing Kabupaten Dompu pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB 2026. Tiga medali emas yang diraih bukan hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga lahir dari perjuangan atlet dengan latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari siswi SMA, mahasiswi, hingga seorang petugas keamanan (security).
Ketiganya membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan doa mampu mengantarkan siapa saja meraih prestasi tertinggi di arena olahraga.
Mahasiswi STIE Tapis Dompu, Hilda, sukses merebut medali emas pada kelas 60 kilogram Full Contact Putri. Prestasi ini menjadi momen yang sangat spesial karena merupakan medali emas pertamanya sekaligus debutnya membela Kabupaten Dompu di ajang Porprov.
Hilda mengungkapkan, keberhasilannya tidak diraih dengan mudah. Selama tiga bulan terakhir ia menjalani latihan intensif sebagai persiapan menghadapi Porprov.
“Sebelumnya saya tiga tahun menekuni pencak silat, lalu pindah ke Kick Boxing. Rahasia saya bisa meraih emas adalah latihan keras, dukungan orang tua dan pelatih, serta terus memotivasi diri,” ujarnya.
Meski berstatus mahasiswi, Hilda mengaku tidak mengalami kendala membagi waktu karena kuliah berlangsung pada pagi hari, sedangkan latihan dilakukan pada sore hari.
Putri pasangan Astuti dan M. Ali, asal Ragi, Mbawi, Dompu itu kini memiliki mimpi lebih besar.
“Harapan saya bisa menjadi atlet PON. Tadi lawan terberat dari KSB dan Kota Bima, alhamdulillah saya bisa menang,” katanya.
Prestasi membanggakan juga dipersembahkan Titan Putri Wahyuni, siswi kelas XII SMAN 1 Dompu. Pada penampilan pertamanya di Porprov, Titan langsung menyumbangkan medali emas di kelas 56 kilogram Full Contact Putri setelah mengalahkan atlet tangguh dari Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
“Ini pertama kali saya ikut Porprov dan langsung dapat emas. Saya sangat senang,” ungkap Titan.
Putri pasangan Megawati dan Tugino yang tinggal di Desa Bara, Kecamatan Woja, itu mengaku keberhasilannya tidak lepas dari latihan rutin dan dukungan penuh keluarga.
Namun, Titan berharap fasilitas latihan Kick Boxing di Dompu dapat terus ditingkatkan agar para atlet semakin siap menghadapi ajang yang lebih tinggi.
“Saya ingin menjadi atlet PON bahkan bisa mewakili Indonesia di tingkat dunia,” ujarnya penuh semangat.
Sementara itu, medali emas ketiga dipersembahkan M. Yusuf pada kelas 71 kilogram Full Contact Putra setelah menundukkan atlet Kota Mataram.
Berbeda dengan dua rekannya, Yusuf sehari-hari bekerja sebagai seorang security. Kesibukan bekerja tidak menghalanginya mengejar prestasi.
“Kalau pulang kerja saya langsung latihan. Kadang kalau terlambat saya latihan mandiri di gym. Kuncinya berdoa, berusaha, disiplin, dan menambah porsi latihan,” katanya.
Yusuf yang berasal dari Desa Kareke, Dompu, mengaku telah mengenal dunia bela diri sejak SMP dan sebelumnya pernah menekuni olahraga tinju (boxing).
“Alhamdulillah, walaupun saya bekerja sebagai security, saya tetap bisa meraih medali emas. Semua berkat doa dan dukungan banyak orang,” ujarnya.














