Bali, SIARPOST – Dari Lombok Utara, langkah seorang dosen Akademi Bisnis Lombok (AKBIL) membawa cerita yang lebih jauh. Deki Zulkarnaen, M.MassComm., terpilih menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam World Diplomacy Forum (WDF) 2026 yang berlangsung di Bali, 7–9 Agustus 2026, sehingga berita ini diturunkan. Kamis, 13/08/2026.
Deki menjadi satu dari sekitar 30 pemuda, akademisi, dan profesional dari berbagai negara yang terpilih mengikuti forum tersebut. Para peserta datang dari sejumlah negara, mulai dari Filipina, Pakistan, Maroko, Australia, Amerika Serikat, India, Vietnam, Ghana, Kenya, Ekuador, Iran hingga Irak.
Indonesia sendiri mengirim empat delegasi. Deki menjadi satu-satunya peserta yang berasal dari Lombok. Tiga delegasi lainnya berasal dari Jakarta dan Surabaya.
“Bagi saya, ini bukan hanya kesempatan untuk mengikuti forum internasional. Ada kebanggaan tersendiri bisa membawa nama Lombok dan NTB, dan kampus afiliasi saya AKBIL di tengah peserta dari berbagai negara,” kata Deki.
Filipina menjadi negara dengan jumlah delegasi terbanyak dalam forum tersebut. Sebanyak tujuh peserta dari Filipina ikut ambil bagian dalam rangkaian WDF 2026.
Forum yang diselenggarakan International Scholarship and Leadership Diplomacy (ISLD), Amerika Serikat, tersebut tidak sekadar menjadi ruang pertemuan anak muda dari berbagai belahan dunia. Para peserta diajak memahami diplomasi dan kepemimpinan melalui berbagai sesi. Salah satunya melalui simulasi studi kasus.
Dalam sesi tersebut, peserta diberikan persoalan yang harus dipecahkan bersama. Mereka kemudian berdiskusi, menyampaikan pandangan, dan mencoba mencari jalan keluar dari sudut pandang masing-masing.
Di sinilah diplomasi terasa bukan sekadar istilah yang sering terdengar dalam ruang-ruang konferensi. Diplomasi, dalam forum tersebut, dipraktikkan melalui kemampuan mendengar, menyampaikan gagasan, bernegosiasi, sekaligus memahami cara pandang orang lain yang datang dari latar belakang berbeda.
Selain diskusi dan studi kasus, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sesi speech atau pidato. Rangkaian kegiatan kemudian dilengkapi dengan pemberian penghargaan kepada peserta dan ditutup dengan kegiatan touring di sejumlah tempat di Pulau Bali.
Bagi Deki, pengalaman selama tiga hari tersebut memberikan banyak hal baru. Bukan hanya pengetahuan mengenai diplomasi dan leadership, tetapi juga pengalaman bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara.
“Banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan. Yang paling penting juga adalah koneksi. Kami bisa berkenalan dan membangun jaringan dengan peserta dari berbagai negara,” ujarnya.
Pengalaman tersebut dinilai cukup relevan dengan aktivitas Deki di AKBIL. Selain sebagai dosen, ia juga dipercaya sebagai Kepala UPT Pusat Bahasa dan Urusan Internasional AKBIL.
Posisi tersebut membuat pengalaman membangun jejaring internasional menjadi semakin berarti. Sebab, hubungan yang terbangun di forum internasional tidak harus berhenti ketika forum selesai. Ada kemungkinan kerja sama, pertukaran informasi, pengembangan program bahasa, hingga peluang kolaborasi akademik yang bisa dibawa pulang ke kampus.
Pada kesempatan ini pula, ia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pihak pihak yang telah turut mensupport, yakni kampus AKBIL dan instansi instansi OPD di Lombok Utara.
Dari Bali, Deki membawa pulang lebih dari sekadar sertifikat dan pengalaman mengikuti forum internasional. Ada jejaring baru, perspektif yang lebih luas, serta satu pengalaman kecil yang mungkin punya arti besar: bahwa anak muda dari Lombok juga bisa duduk satu meja, berdiskusi, dan bertukar gagasan dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.
Dari Lombok Utara, dunia ternyata tidak sejauh yang dibayangkan. Kadang, pintunya hanya perlu diketuk.(Niss)














