Empat Lomba Jadi Cara Pekan Apresiasi Sastra Lombok Utara Hidupkan Bahasa Sasak

LOMBOK UTARA,SIARPOST — Sastra berbahasa Sasak tidak hanya ingin dikenang sebagai bagian dari budaya masa lalu. Di Lombok Utara, upaya menghidupkannya kembali dilakukan dengan melibatkan generasi muda melalui rangkaian Pekan Apresiasi Sastra Lombok Utara 2026 ,yang dilaksanakan di Alun Alun Kota Tanjung. Minggu malam 27/09/2026

Ketua Pekan Apresiasi Sastra Lombok Utara 2026, Sandi Jastitia PutraS.I.Kom., M.A., mengatakan kegiatan tersebut sejak awal memang dirancang untuk memberi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar kembali dekat dengan bahasa, sastra dan budaya lokal.

Kegiatan yang diinisiasi Rumah Budaya Kembang Rampe Sammira bersama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI itu bahkan telah berlangsung sejak Juli 2026.

Menurut Sandi, rangkaian kegiatan diawali dengan lokakarya penulisan puisi yang melibatkan sekitar 40 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dosen, guru hingga masyarakat umum.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan seminar sastra suku Sasak yang digelar di Aula Kantor Desa Bentek,kec gangga. Rangkaian tersebut kemudian berlanjut dengan empat lomba yang secara khusus mengangkat sastra dan bahasa Sasak.

“Yang pertama lomba storytelling atau mendongeng dengan bahasa suku Sasak. Kedua lomba membuat cerpen dengan tema Mepolong Merenten. Ketiga lomba cipta puisi berbahasa Sasak dan terakhir lomba baca puisi berbahasa Sasak,” ujar Sandi.

Menurutnya, penggunaan sastra lokal menjadi salah satu kekuatan utama kegiatan tersebut. Sebab, dari ribuan usulan kegiatan yang masuk ke kementerian, program yang mengangkat sastra lokal di Lombok Utara menjadi salah satu yang mendapat ruang untuk dilaksanakan.

Sandi berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah rangkaian Pekan Apresiasi Sastra 2026 selesai. Justru, kegiatan ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk mempertemukan lebih banyak komunitas, pegiat literasi dan pelaku sastra di Lombok Utara.

Ia menyebut Lombok Utara memiliki cukup banyak pegiat sastra yang selama ini aktif menghasilkan karya, namun belum semuanya mendapat ruang yang cukup untuk tampil dan berkembang.

“Kami baru tahu ternyata luar biasa, banyak sekali komunitas, banyak sekali para pegiat literasi sastra di daerah kita ini yang memang perlu kita perhatikan,” katanya.

Sandi menilai keberadaan para pegiat sastra tersebut menjadi modal penting untuk membangun ekosistem sastra di Bumi Tioq Tata Tunaq.

Karena itu, ia berharap Pekan Apresiasi Sastra tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi mampu melahirkan lebih banyak karya sastra lokal sekaligus mendorong generasi muda untuk menggunakan dan mengenal kembali bahasa Sasak.

Harapan serupa disampaikan Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarsip) Kabupaten Lombok Utara, H. Muhammad, S.Pd. Ia menilai kegiatan sastra seperti ini memiliki peran penting dalam menjaga agar generasi muda tetap mengenal bahasa dan budaya daerahnya.

“Ini adalah suatu upaya kegiatan dalam rangka bagaimana kita menghidupkan, mengingatkan kepada anak cucu kita bahwa di Lombok Utara itu ada budaya, ada sastra, ada bahasa halusnya,” ujarnya.

Menurut H. Muhammad, pelestarian sastra tidak cukup hanya dengan menyimpan karya atau memperkenalkan budaya secara teori. Generasi muda juga perlu diberikan ruang untuk mengekspresikan kemampuan mereka melalui karya.

Ia menilai literasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar membaca dan menulis. Kemampuan mengekspresikan diri melalui seni dan sastra juga merupakan bagian dari literasi.

Karena itu, ia berharap kegiatan seperti Pekan Apresiasi Sastra dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan melalui kolaborasi antara komunitas dengan organisasi perangkat daerah terkait.

“Kita sangat berharap kepada Sandi dan kawan-kawan bisa menjemput peluang di kementerian untuk kegiatan ini bisa dilaksanakan setiap tahun,” katanya.

H. Muhammad juga mendorong agar komunitas sastra dapat memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah, termasuk Dinas Pendidikan serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.

Menurutnya, keberlanjutan kegiatan menjadi penting agar karya sastra berbahasa Sasak tidak berhenti pada perlombaan, tetapi berkembang menjadi karya yang bisa dibaca, didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pekan Apresiasi Sastra Lombok Utara 2026 pun diharapkan menjadi salah satu ruang yang mempertemukan karya, komunitas dan generasi muda. Dari puisi, cerpen hingga tradisi bercerita dalam bahasa Sasak, sastra lokal didorong untuk tetap hidup dan menemukan pembacanya di tengah perubahan zaman.(Niss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *