(OPINI) Menjamurnya Kekerasan Seksual di Lingkungan Menara Gading

Penulis : Sarisah, Mahasiswi Prodi Sosiologi Unram

 
Mataram, SIARPOST – Pendidikan ialah upaya untuk membuat manusia mengembangkan potensi manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkeperibadian, memiliki kecerdasaan, berahlak mulia serta memiliki keterampilan.  Sehingga dapat dikatakan pendidikan membentuk keperibadiian seorang individu.

Menurut Ki Hajar Dewantara “bahwa usaha-usaha pendidikan ditunjukan pada halusnya budi, cerdasanya otak dan sehatnya badan”. Asas Pendidikan yaitu suatu kebenaran yang menjadi dasar berpikir dalam perencanaan dan pelaksanaan.

Adapun asas pendidikan di Indonesia adalah asas tut wuri handayani, asas demokratif, asas pendidikan seumur hidup dan asas kemandirian.
 
Pendidikan menanamkan hal-hal positif untuk setiap individu  yang dimulai sejak dini. Pendidikan sudah ada dan diajarkan sejak dini.

Tujuan pendidikan disebutkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 dalam pasal 3 ialah bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan demokratis serta bertanggung jawab”.

Pendidikan di Negara Republik Indonesia memiliki prinsip yakni dilaksanakan secara demokratif, adil dan tidak diskriminatif pada siapapun dan tentunya menjunjung tinggi HAM (Hak Asasi Manusia), nilai kegamaan,nilai kultur dan kemajemukan bangsa.
 
 – Perguruan Tinggi

Istilah Perguran Tinggi yang digunakan untuk lapisan ke-2, identik dengan istilah Perguruan Tinggi yang disebut dalam Peraturan Pemerintah NO. 30 th 1990, yaitu organisasi satuan pendidikan, yang menyelenggarakan pendidikan di jenjang pendidikan tinggi , penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 

Adapun fungsi-fungsi dari perguruan tinggi yakni, membina kualitas hasil kinerja Perguruan Tinggi agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam aspek politik, ekonomi, social dan budaya.

Kemudian, merencanakan pengembangan Perguruan Tinggi menghadapi perkembangan di masyarakat. Mengupayakan tersedianya sumberdaya untuk menyelenggarakan tugas-tugas fungsional dan merencanakan perkembangan perguruan tinggi.

Adanya kerjasama, kontrak penelitian dengan pihak lain untuk mengembangakn sumber daya yang ada. Lalu, menyelenggarakan pola manajemen Perguruan Tinggi yang berlandaskan Paradigma Penataan Sistem Pendidikan Tinggi, dengan sasaran utama suasana akademik yang kondusif untuk pelaksanaan kegiatan fungsional pendidikan tinggi.

Pada dasaranya perguruan tinggi ialah wadah bagi para masyarakat kampus yakni mahasiswa, birokrasi dan lain sebagainya. Seperti yang diketahui, setidaknya ada empat hakekat perguran tinggi di Indonesia.

Ke empat itu adalah:

a.      Pelaksana pemerintah dalam bidang pendidikan dan pengajaran diatas perguruan tingkat menengah.
b.     Bertugas untuk melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia secara ilmiah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c.      Menjalakan Tri dharma Perguruan Tinggi
d.     Menyelenggarakan pembinaan sivitas akademika dan hubungannya dengan lingkunganya.

Perguruan tinggi merupakan tempat yang aman dan nyaman bagi para mahasiswanya untuk menuntut ilmu. Sebagai wadah untuk mengembangkan potensi diri, memperluas pengetahuan dengan bimbingan dari setiap tenaga pengajar yang ada yakni dosen.

Terlepas dari fungsi dan hakekat perguruan tinggi dan sebagai tempat untuk mengemban ilmu bagi para mahasiswa, masih terdapat berbagai macam peristiwa dan kasus yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi yakni kampus.

Salah satu kasus yang sering terjadi di lingkungan kampus ialah kekerasan seksual.

Catatan mengenai tingginya angka kekerasan seksual di perguruan tinggi terus meningkat, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim menyatakan sejumlah data menujukan bahwa saat ini dalam kondisi gawat darurat kekerasan seksual dilingkungan perguruan tinggi.

Berdasarkan data dari Komnas Perempuan tercatat sebanyak 27% kasus kekerasan seksual terjadi dilingkungan kampus
Berikut merupakan kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus :

Dikutip dari idntimes.com, salah satu kasus yang pernah terjadi di kampus ialah kekerasan sesksual pada anggota Organisasi Laskar Mahasiswa Republik Indonesia (Lamri) “ pada awal November 2021, muncul dugaan kasus kekerasan seksual di Surabaya,  Jawa Timur. Organisasi Laskar Mahasiswa Republik Indonesi, Kota Surabaya membuat utas di Twitter pada Senin (1/11/2021) terkait dugaan kekerasan seksual yang dilakukan seseorang berinisial AS.

Setelah dilakukan penelusuran, rupanya AS memperkosa 2 korban dalam keadaan mabuk”.
Kasus pelecehan seksual pada mahasiswi di Riau saat skripsi
Dikutip dari idntimes.com, seorang mahasiswa berinisial L yang mengalami kekerasan seksual oleh dosesnnya di tengah proses penyelesaian tugas akhir.

Kekerasan seksual bisa terjadi dimana saja. Seiring berjalannya waktu kekerasan seksual terus terjadi di lingkungan kampus.

Dugaan kasus kekerasan seksual di beberapa kampus di Indonesia seperti kasus di Universitas Riau menambah daftar panjang kasus kekerasan sesksual yang terjadi.

Kasus kekerasan sesksual di kampus terus menjamur, hal ini disebabkan oleh relasi kuasa yang timpang, kurangnya dukungan pihak kampus maupun pihak berwajib serta tidak berfugsinya payung hukum.

Bagaimana mau dituntaskan jika yang menjadi pelaku ialah para pejabat dari perguruan tinggi itu sendiri, alih-alih menyelesaikan permasalahan pihak kampus malah menyembunyikan hingga menutup kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi, dengan dalih untuk “menjaga nama baik kampus”.

Maka dari itu kita dapat melihat bahwa minimnya keberpihakan terhadap korban kekerasan sesksual di kampus karna dari pihak kampus sendiri tidak maju dalam menyikapi kasus tersebut, seolah memberikan kesan bahwa pihak kampus lebih memihak para predator kampus. Penuntasan kasus kekerasan seksual dikampus menuai pro dan kontra.

Komnas Perempuan menyatakan bahwa lingkungan kampus menjadi salah satu tempat yang rentan terjadinya pelecehan seksual.

Ketua Komnas Perempuan mengatakan adanya keterbatasan layanan terhadap perempuan korban kekerasan. Keterbatasan layanan dan perlindungan terhadap korban, dapat kita lihat dari kasus yang dialami oleh Mahasiswa salah satu Universitas di Jawa Timur yang menjadi korban kererasan seksual secara verbal dan non verbal oleh dosennya sendiri, hingga akhirnya ia memilih untuk mengakhiri kuliahnya.

Pihak kampus sendiri tidak menindaklanjuti kasus tersebut.
Kelalaian dari pihak Perguruan Tinggi dalam menanngani kekerasan sesksual menyebabkan para korban enggan untuk melaporkan si pelaku, selain itu pihak kampus lebih mementingkan nama baik Perguruan Tinggi nya sehingga memilih untuk membunngkam korban agar kampus tetap di cap kampus terbaik.

Bahkan melaporkanpun tidak menjamin adanya perelindungan dan adanya stigma negative dari masyarakat terhadap korban pelecehan sesksual, mendapatkan berbagaimacam hukuman darimasyarakat, serta banyak yang melakukan victim baming yakni menyalahkan korban.

Maka penulis menyimpulkan bahwa  Perguruan Tinggi pada saat ini mengalami disfungsi, dimana seharusnya lingkungan kampus menjadi tempat yang aman dan yaman bagi para masyarakatnya berubah menjadi tempat yang rentan akan kekerasan seksual dan berubah menjadi sarang predator seks.

Kondisi kampus pada saat ini tidak mampu melaksanan peran serta fungsi yang seharusnya. Rektor, dosen dan semua sivitas akademika yang seharusnya bertanggung jawab atas kasus-kasus yang terjadi enggan untuk menindak lanjuti dan cendrung berpihak terhadap pelaku kekerasan seksual dengan membuka kesempatan bagi pelaku untuk tetap mengajar di kampus itu sendiri.

Selain itu stigma dari masyaraka juga menjadi penyebab diamnya para korban, alih-alih membela masyarakat cendrung mendiskriminasi para korban pelecehan seksual, bahkan masyarakat beranggapan bahwa korbanlah yang menyebabkan pelecehan itu terjadi.

Kurangnya pemahaman masyarakat menjadi salah satu factor munculnya stigma, tidak semua paham akan dampak-dampak yang terjadi pada korban.

Masyarakatpun tidak paham akan dampak dari stigma yang mereka cap pada korban, seperti dampak pada kesehatan mental, depresi hingga semakin sulit untuk memulihkannya hingga akhirnya korban memilih mengakhiri hidupnya.

Penulis juga mengkaji kekerasan seksual dari persfektif sosiologis.
Kekerasan terhadap perempuan  dalam persefektif sosiologis.

Goode menjelaskan bagaimana fungsi keluarga sebagai institusi social yakni peran seorang suami atau ayah yang mempunyai kekuatan untuk bersikap tegas dan memecahkan masalah-masalah ketidaksiplinan anggota-anggota keluarga.

Lebih jelasnya struktur fungsional bahwa keluarga merupakan kerangka pembentukan sosialisasi mengenai nilai-nilai yang ada di masyarakat seperti imbalan dan hukuman atas prilakunyaan.

Sifat maskulin  dan kuat dan memiliki prilaku agresif ialah ditunjukan pada laki-laki dan dibeikan sosialisasi bahwa laki-laki memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan menjukan otoritas dalam hal tertentu.

Mengutip dari persfektif fungsional peran laki-laki memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk bersikap tegas dan memecahkan masalah ketidakdisiplinan. Pembelajaran mengenai peran laki-laki sudah diajarkan sedari dini dengan harapan dapat diterapkan ketika sudah dewasa.

Namun nyatanya pendidikan yang didapatkan dari dini tidak dimanfaatkan dan dipergunakan dengan baik oleh beberapa individu, seperti halnya seorang dosen yang menggunakan kekuasanya dan kekuatanya untuk melakulan tindakan kekerasan seksual terhadap mahaiswanya.

Seseorang yang diharapkan mampu melindungi dan menegakan kebenaran malah berbanding terbalik, ia yang seharusnya bersikap tegas apabila terjadi masalah ketidakdisiplinan malah menjadi seorang pelaku atayu predator pada kasus kekerasan.

Kampus dapat diibaratkan sebagai rumah, dimana Rektor, Dekan, Dosen dapat diasumsikan sebagai kepala keluarga yang berwenang meneggakan peraturan, dengan mahsiswa-mahasiswanya sebagai anggota keluarga yang membutuhkan bimbingan dengan harapan kampus dapat menjadi rumah kedua bagi para sivitas akademika khsusunya mahasiswa/i.

Tetapi nyaatanya kampus tidak dapat menjadi rumah kedua bagi mahasiswa karna kelalaina kepala keluarga ( Rektor, Dekan,Dosen) dalam mengatasi permasalahan yang terjadi. Sehingga kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi terus menjamur. Dapat disimpulkan bahwa dunia pendidikan pada saat  tidak berjalan sesuai dengan fungsi dan hakekatnya hingga terjadi disfungsi.

Penulis berharap semua pihak baik itu pihak kampus, masyarakat, dan lemba-lembaga penegak hukum lainnya memberikan dukungan yang penuh terhadap korban pelecehan seksual. Dan penulis berharap Permendikbudsistek dapat melindungi serta menenagani kasus kekerasan seksual dikampus.

Pihak kampus jangan terus terusan melindungi pelaku dengan alasan “ menjaga nama baik kampus” serta stigma negative masyarakat terhadap korban pelecehan seksual harus dihapus. Mari kita sama-sama mendukung dan merangkul saudari kita yang mengalami berbagai kekerasan.

 Terimakasih teruntuk  perempuan yang sudah bertahan dan tetap kuat dalam menghadapi budaya patriarki di negri ini. Panjang umur para perempuan hebat.

Dan sebagai penutup penulis mengambil potongan anekdot yang berjudul CANTIK “ terus terang kami tak paham. Kalau di planet kami ada binatang yang buas dan berbahaya bagi umum, maka yang dikurung adalah binatang itu. Bukan korbannya”
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *