Lingkungan KSB di Ambang Krisis: Yayasan Bina Sahabat Alam Serukan Tindakan atas Pencemaran Tambang Ilegal

Ketua Yayasan Bina Sahabat Alam, Rizal. Dok istimewa

Sumbawa Barat, SIAR POST — Kekhawatiran atas pencemaran lingkungan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) kian memuncak setelah sejumlah insiden mencuat, termasuk matinya ternak dan ikan di sungai Banjar.

Ketua Yayasan Bina Sahabat Alam, Rizal, menyuarakan keprihatinannya atas kerusakan lingkungan yang diduga kuat akibat aktivitas tambang ilegal yang menggunakan merkuri dan sianida.

 




“Sudah saatnya semua pihak mengambil langkah nyata. Ancaman ini sudah lama mengintai keselamatan warga KSB. Apakah harus menunggu korban jiwa dulu baru kita bertindak?” kata Rizal dengan nada tegas.

Aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) di KSB bukanlah hal baru. Proses pengolahan menggunakan gelondong dan tong berisi cairan kimia berbahaya seperti sianida dan merkuri telah menjadi pemandangan biasa.

Bahkan, tenda-tenda tambang ilegal di pinggir jalan atau di sepanjang sungai dianggap hal lumrah. Namun, hingga kini, belum ada langkah tegas dari pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum.

 




“Banyak cara mencari nafkah tanpa harus merusak alam dan membahayakan sesama. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. APBD KSB yang besar seharusnya mampu dimanfaatkan untuk membuka lapangan kerja yang lebih berkelanjutan,” lanjut Rizal.

BACA JUGA : Bripka Hery Hartono Hadiri Pemakaman Warga, Wujud Kepedulian Polisi di Tengah Masyarakat

Yayasan Bina Sahabat Alam sendiri lahir dari kesadaran bahwa sektor tambang suatu saat akan habis.

Karena itu, Rizal dan rekan-rekannya mendorong pemerintah dan masyarakat untuk mulai menyusun strategi pembangunan yang ramah lingkungan dan berjangka panjang.



“Lingkungan Sumbawa Barat harus diselamatkan dari kerusakan yang semakin brutal akibat PETI. Ekosistem pendukungnya, seperti pemodal dan oknum yang membekingi, harus ditindak tegas. Ini menyangkut hak asasi manusia untuk hidup sehat yang harus dijamin oleh negara. Bayangkan jika yang jadi korban adalah keluarga kita sendiri,” tegas Rizal.

Yayasan Bina Sahabat Alam mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan aparat hukum untuk bersatu menyelamatkan lingkungan demi masa depan KSB yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *