60 Kilometer untuk Kumisah: Negara Datang dengan Sepasang Roda

Lombok Utara,SIARPOST— Negara tidak selalu hadir lewat podium dan pidato. Di Lombok Utara, negara datang lewat kayuhan sepeda yang menempuh jarak 60 kilometer, menyusuri jalan desa, demi satu tujuan sederhana namun bermakna: memastikan Kumisah kembali bisa bergerak.

Kumisah, gadis penyandang disabilitas asal Dusun Terbis, Desa Andalan, Kecamatan Bayan, sejak lahir hidup dengan keterbatasan fisik. Selama bertahun-tahun, ruang geraknya dibatasi oleh kondisi tubuh dan ketiadaan alat bantu. Hingga Sabtu (10/1), dua roda harapan akhirnya tiba di hadapannya.

Kursi roda itu diserahkan langsung oleh Kapolres Lombok Utara AKBP Agus Purwanta, S.I.K., yang bersama jajaran Polres dan Bhayangkari mengayuh sepeda dalam rangkaian Gowes Kamtibmas. Desa Andalan menjadi titik ke-31 dalam perjalanan panjang menyambangi desa-desa dan mendengar langsung denyut persoalan warga.

“Begitu kami mendengar kondisi Kumisah, kami merasa tidak cukup jika hanya lewat laporan. Kami ingin datang, melihat, dan memastikan langsung,” ujar AKBP Agus Purwanta.

Saat kursi roda diserahkan, senyum Kumisah merekah. Bagi orang lain, itu mungkin sekadar alat bantu. Namun bagi Kumisah, dua roda itu adalah pintu menuju dunia yang selama ini terasa jauh dan sempit.

Kunjungan tersebut tidak berhenti pada satu kisah. Polres Lombok Utara juga menyalurkan 50 paket sembako kepada warga rentan serta mengerahkan Klinik Polres untuk memberikan layanan kesehatan gratis kepada ratusan warga Desa Andalan.

Bagi Kapolres, keamanan tidak berdiri sendiri.

“Rasa aman lahir ketika masyarakat merasa diperhatikan secara sosial, kesehatan, dan kemanusiaan,” katanya.

Di sisi lain, Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, menyoroti persoalan ekonomi desa. Ia meninjau langsung aktivitas UMKM, menemukan persoalan klasik yang kerap luput: pencatatan keuangan yang belum rapi, penghitungan biaya produksi yang belum tepat, hingga harga jual yang belum mencerminkan struktur usaha yang sehat.

“UMKM tidak cukup dibantu kemasan. Yang paling penting adalah cara mereka menghitung dan mengelola usaha,” ujarnya.

Ia juga mendorong keterlibatan mahasiswa KKN untuk membantu pembuatan website desa dan desain logo UMKM sebagai bagian dari strategi branding agar produk lokal Desa Andalan mampu menembus pasar yang lebih luas.

Langkah-langkah kecil di desa terpencil itu memotret pendekatan besar: negara yang tidak menunggu laporan di meja, tetapi menjemput persoalan langsung di lapangan.

Gowes Kamtibmas kini bukan sekadar agenda olahraga. Ia menjelma menjadi praktik kepemimpinan lapangan menggabungkan keamanan, kemanusiaan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu tarikan napas.

Bagi Kumisah, hari itu adalah titik balik hidupnya.

Bagi negara, ini seharusnya menjadi pengingat: kehadiran paling bermakna sering kali datang tanpa sorak-sorai cukup dengan keringat, empati, dan keberanian untuk turun langsung ke jalan.(Niss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *