Jakarta, Indonesia (SIARPOST) —
Stres oksidatif atau oksidasi berlebihan di dalam tubuh kini semakin mendapat sorotan para ahli kesehatan sebagai salah satu pemicu utama berbagai penyakit kronis yang mengancam kualitas hidup jutaan orang.
Kondisi ini terjadi ketika jumlah radikal bebas melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya, sehingga menimbulkan kerusakan sel, jaringan, dan DNA.
Apa Itu Stres Oksidatif?
Stres oksidatif merupakan keadaan ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh.
Radikal bebas adalah molekul yang terbentuk secara alami selama proses metabolisme, namun jumlahnya bisa meningkat karena faktor eksternal seperti polusi, rokok, paparan sinar matahari, dan pola hidup tidak sehat lainnya.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh stres oksidatif tidak hanya lokal, tetapi dapat memicu reaksi berantai yang melibatkan peradangan hingga perubahan fungsi sel yang memperburuk kondisi medis.
Deretan Penyakit Kronis Akibat Stres Oksidatif
Berbagai penelitian dan dari berbagai sumber resmi menunjukkan bahwa stres oksidatif turut berperan penting dalam mekanisme patologi sejumlah penyakit serius, antara lain:
Diabetes Mellitus – Hiperglikemia memicu produksi radikal bebas, menyebabkan kerusakan vaskular yang memperparah komplikasi diabetes.
Penyakit Jantung dan Aterosklerosis – Stres oksidatif berkontribusi pada kerusakan pembuluh darah dan pembentukan plak yang menyumbat arteri.
Penyakit Neurodegeneratif (Alzheimer, Parkinson) – Kerusakan oksidatif pada sel saraf disinyalir mempercepat degenerasi fungsi kognitif.
Kanker – Radikal bebas yang merusak DNA dapat memicu mutasi sel yang berisiko berkembang menjadi kanker.
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) akibat paparan asap rokok yang membawa radikal bebas berlebih ke saluran pernapasan.
Selain itu, stres oksidatif juga dikaitkan dengan hipertensi, artritis, dan mempercepat penuaan dini.
Pendapat Dokter: ‘Radikal Bebas Bukan Musuh, Tapi Ketidakseimbangan yang Berbahaya’
Mengutip dari penjelasan dr. Vito A. Damay, Sp.JP, M.Kes, FIHA, FICA dalam artikel kesehatan yang dimuat di KlikDokter, stres oksidatif terjadi karena gangguan keseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan antioksidan tubuh.
Menurutnya, “ketika radikal bebas tidak lagi terkontrol dan antioksidan tidak cukup, tubuh berada dalam kondisi yang rentan terhadap kerusakan sel dan penyakit kronis.”
Dalam wawancara dengan detikHealth, dr. Adeline Devita juga menegaskan bahwa radikal bebas dapat merusak struktur sel, protein, dan gen tubuh jika dibiarkan tanpa langkah antisipatif.
“Radikal bebas akan menyebabkan kerusakan pada membran sel, protein, maupun gen di dalam tubuh kita,” ujarnya.
Menurut data terbaru, lebih dari 415 juta orang di seluruh dunia saat ini hidup dengan diabetes, dan angkanya diperkirakan akan meningkat menjadi 642 juta pada 2040, sebuah tren yang mengkhawatirkan karena hubungan kuat antara diabetes dan stres oksidatif.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 17,9 juta kematian di seluruh dunia, atau 32% dari total kematian global, pada 2019.
Sekitar 85% dari kematian ini disebabkan oleh serangan jantung dan stroke, kondisi yang dipengaruhi oleh stres oksidatif.
Pengendalian dan Pencegahan














