SUMBAWA BARAT (SIAR POST) — Video kiriman warga Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), kembali memantik sorotan publik terhadap kualitas proyek infrastruktur jalan bernilai puluhan miliar rupiah di daerah tersebut.
Dalam video berdurasi sekitar satu menit lebih itu, warga memperlihatkan kondisi Jalan Poto Tano–Taliwang, tepatnya di Jalur 2 Desa Tambak Sari, yang tampak sudah dipenuhi tambalan meski baru saja rampung dikerjakan.
Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas permukaan aspal yang tidak lagi mulus. Sejumlah titik tampak ditambal, sementara di bagian lain aspal terlihat mengelupas dan bergelombang.
Warga yang merekam video itu mempertanyakan kualitas pekerjaan proyek jalan provinsi tersebut, mengingat usia jalan yang terbilang masih sangat baru.
“Ini jalan baru, tapi sudah seperti jalan lama. Banyak tambalan di mana-mana,” ujar warga setempat yang tidak mau dipublish identitasnya.
Temuan warga Seteluk ini memperkuat sorotan publik sebelumnya terkait proyek peningkatan Jalan Jalur 2 Tambak Sari yang menelan anggaran sekitar Rp35 miliar.
Proyek tersebut diketahui dikerjakan oleh PT NIAT Karya dan saat ini masih berada dalam masa pemeliharaan hingga Juni 2026.
Sebelumnya, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) PUPR Provinsi NTB, Miftah, menegaskan bahwa pengawasan proyek telah dilakukan secara maksimal melalui konsultan pengawas dan pengujian di setiap tahapan pekerjaan.
Ia menyebut, setiap kerusakan yang muncul masih menjadi tanggung jawab kontraktor selama masa pemeliharaan.
“Kontraktor wajib memperbaiki kerusakan yang terjadi selama masa pemeliharaan,” tegas Miftah saat dikonfirmasi, Kamis (22/1/2026).
Sementara itu, pihak kontraktor berdalih bahwa salah satu penyebab cepatnya kerusakan adalah kendaraan bermuatan berat yang melintas tidak sesuai dengan kelas jalan, khususnya kendaraan dari arah pelabuhan menuju kawasan tambang.
Namun, munculnya video terbaru yang menunjukkan banyaknya tambalan justru memicu pertanyaan baru di tengah masyarakat.
Publik menilai, jika perbaikan terus dilakukan dalam waktu singkat setelah proyek rampung, maka kualitas konstruksi awal patut dipertanyakan.
Redaksi | Edo MH














