Perbedaan Lebaran 2026: Arab Saudi Sudah Rayakan Idul Fitri, Indonesia Masih Tunggu Hilal 3 Derajat

Foto Hilal sudah terlihat sampai 20 derajat pada Pukul 05.00 Wita (dok. Sahril)

MATARAM, SIAR POST | Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri kembali terjadi pada tahun 2026. Saat umat Muslim di Arab Saudi telah merayakan Lebaran pada 20 Maret 2026, umat Islam di Indonesia masih menunggu hasil sidang isbat karena hilal dinilai belum memenuhi kriteria.

Fenomena ini bukan hal baru. Perbedaan tersebut terjadi bukan karena adanya kekeliruan, melainkan disebabkan oleh perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah serta faktor astronomi yang memengaruhi visibilitas hilal.

Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan kriteria yang disepakati bersama negara Asia Tenggara dalam forum MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Kriteria tersebut menetapkan bahwa hilal dianggap dapat terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi (jarak sudut bulan dengan matahari) minimal 6,4 derajat.

Kriteria ini bukan tanpa dasar. Secara ilmiah, para ahli astronomi menyebutkan bahwa hilal dengan ketinggian di bawah 3 derajat hampir mustahil terlihat oleh mata manusia karena kalah terang oleh cahaya senja.

Sejumlah penelitian dan data rukyat global juga menunjukkan belum ada laporan valid pengamatan hilal di bawah batas tersebut.

Berdasarkan data astronomi pada 19 Maret 2026, tinggi hilal di wilayah Indonesia berada di kisaran sekitar 0,5 hingga 3 derajat, dengan elongasi antara 4,3 hingga 6 derajat. Artinya, sebagian besar wilayah belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan, sehingga Indonesia belum dapat menetapkan 1 Syawal pada hari yang sama.

Di sisi lain, metode yang digunakan di Arab Saudi cenderung lebih fleksibel. Penetapan awal bulan Hijriah di sana lebih mengandalkan rukyat atau kesaksian langsung melihat hilal.

Dalam praktiknya, jika terdapat laporan yang diterima, maka penetapan Idul Fitri dapat dilakukan meskipun secara perhitungan astronomi belum memenuhi standar seperti yang digunakan di Indonesia.

Selain perbedaan metode, faktor geografis juga berperan penting. Posisi Mekkah yang lebih ke barat dibanding Indonesia membuat waktu terbenam matahari lebih lambat.

Hal ini memberi peluang posisi bulan sedikit lebih tinggi saat pengamatan, sehingga kemungkinan terlihatnya hilal menjadi lebih besar dibandingkan di wilayah Indonesia.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa penentuan awal bulan Hijriah merupakan perpaduan antara pendekatan ilmiah dan metode keagamaan yang berbeda di tiap negara.

Karena itu, perbedaan Hari Raya Idul Fitri bukanlah hal yang perlu diperdebatkan, melainkan bagian dari dinamika dalam praktik penentuan kalender Islam di dunia.

Dengan dasar ilmiah dan referensi yang jelas, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa perbedaan Lebaran adalah sesuatu yang wajar, dan masing-masing keputusan memiliki landasan yang kuat. (BERBAGAI SUMBER)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *