Video Lalu Ahmad Zaini Nyawer di Acara Budaya Ramai Dibahas Usai Penetapan Tersangka KPK

LOMBOK BARAT, SIAR POST – Sebuah video yang memperlihatkan Bupati Lombok Barat nonaktif, Lalu Ahmad Zaini, menghadiri acara budaya dan memberikan saweran kepada penampil kembali menjadi perhatian publik.

Rekaman yang sebelumnya beredar di media sosial itu ramai diperbincangkan setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Lalu Ahmad Zaini sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi.

Dalam video tersebut, Lalu Ahmad Zaini tampak hadir bersama sang istri di tengah masyarakat. Keduanya terlihat menikmati pertunjukan seni dari deretan kursi penonton.

Pada salah satu momen, Lalu Ahmad Zaini terlihat memberikan uang atau “nyawer” kepada penampil yang sedang tampil di atas panggung, sebuah tradisi yang lazim dijumpai dalam sejumlah pertunjukan budaya di Lombok.

Setelah status tersangkanya diumumkan KPK, video tersebut kembali viral dan memicu beragam reaksi dari masyarakat. Sejumlah warganet melontarkan sindiran dan kritik, sementara yang lain mengajak publik menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Di kolom komentar media sosial, muncul berbagai pendapat. Ada yang mempertanyakan asal-usul uang yang digunakan dalam momen tersebut, ada pula yang mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menghakimi sebelum proses hukum selesai.

Sebagian lainnya mengaku tetap mengapresiasi program pembangunan yang pernah dijalankan, namun menegaskan bahwa dugaan tindak pidana korupsi harus diproses sesuai ketentuan hukum.

Kasus yang menjerat Lalu Ahmad Zaini sendiri berkaitan dengan dugaan korupsi proyek pengadaan barang dan jasa serta proyek fisik yang bersumber dari APBD Kabupaten Lombok Barat Tahun Anggaran 2025–2026.

Penanganan perkara ini bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK yang kemudian berlanjut pada penetapan tersangka.

Publik kini menanti jalannya proses hukum secara terbuka, profesional, dan transparan. Di tengah perhatian masyarakat yang terus menguat, video momen kebersamaan Lalu Ahmad Zaini di acara budaya menjadi pengingat bahwa setiap pejabat publik pada akhirnya akan dinilai, bukan hanya dari penampilannya di ruang publik, tetapi juga dari integritas dan pertanggungjawaban atas amanah yang diemban. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *