Dari Panti Asuhan ke Bangku Kuliah, Perjuangan Patmawati Antar Anak Yatim Hingga S1 Meski Hidup Serba Kekurangan

{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":[],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

SUMBAWA BARAT, SIAR POST – Di tengah keterbatasan ekonomi, Panti Asuhan Baitul Jannah Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, terus membuktikan bahwa kemiskinan bukan penghalang bagi anak-anak yatim dan dhuafa untuk mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Pemilik Yayasan Baitul Jannah, Patmawati, mengaku bersyukur karena sejumlah anak asuhnya berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, meski seluruh biaya diperjuangkan dengan penuh keterbatasan.

“Saya hanya seorang ibu yang punya harapan agar anak-anak ini sukses. Alhamdulillah ada yang kuliah kebidanan, ada yang belajar bahasa Jepang di Jakarta, ada juga yang mengambil fisioterapi,” katanya.

Salah satu anak asuhnya bahkan tengah mempersiapkan diri untuk bekerja di Jepang setelah mengikuti pelatihan selama satu tahun. Harapannya, ketika berhasil bekerja nanti, anak tersebut dapat membantu adik-adiknya yang masih tinggal di panti.

Namun perjuangan itu tidak mudah.

Contohnya yang kuliah Fisioterapi, biaya kuliahnya lumayan besar hingga mencapai belasan juta rupiah setiap semester, hal itu menjadi tantangan besar. Bahkan anak tersebut terpaksa mengambil cuti karena keterbatasan biaya dan ada anak yang juga sama-sama yang harus diprioritaskan.

Patmawati mengatakan seluruh kebutuhan pendidikan sebagian besar dipenuhi dari hasil usaha pribadinya, ditambah bantuan para donatur seperti pemerintah Sumbawa Barat dan donatur lainnya yang nilainya belum mampu menutupi seluruh kebutuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *