LOMBOK BARAT SIARPOST – Pascakontestasi Pemilihan Ketua Umum Pengurus Pusat HIKMAHBUDHI periode 2026–2028, sejumlah pengurus cabang memilih mengirimkan pesan persatuan melalui doa bersama. Namun, kegiatan yang digelar di Vihara Avalokitesvara Ganjar, Lombok Barat, Rabu (5/8/2026), bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan penegasan bahwa organisasi harus tetap berjalan sesuai konstitusi internal dan bebas dari kepentingan politik praktis.
Tokoh HIKMAHBUDHI, Ananda Budi Stiawan, menegaskan bahwa dinamika yang terjadi dalam proses pemilihan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan organisasi. Meski diwarnai perbedaan pandangan dan pilihan, menurutnya, seluruh kader memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga soliditas organisasi.
“Doa bersama ini murni kami tujukan untuk kebaikan dan kemajuan HIKMAHBUDHI. Agar organisasi yang kita cintai senantiasa diberkahi, semakin kokoh, dan berjalan sesuai cita-cita luhur para pendirinya,” ujar Ananda.
Ia menekankan, momentum setelah kontestasi harus menjadi titik balik bagi seluruh kader untuk kembali mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan kelompok maupun individu. Persatuan dinilai menjadi modal utama agar HIKMAHBUDHI tetap mampu menjalankan fungsi perjuangannya di tengah berbagai tantangan.
Dalam kesempatan tersebut, Ananda juga menegaskan posisi organisasi yang menurutnya tidak boleh bergeser dari garis perjuangan yang telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Ia memastikan HIKMAHBUDHI bukan bagian, sayap, maupun perpanjangan tangan dari partai politik mana pun.
Seluruh kebijakan dan aktivitas organisasi, lanjutnya, wajib berpedoman pada AD/ART sebagai aturan tertinggi organisasi. Sikap itu dinilai penting untuk menjaga independensi sekaligus memastikan arah perjuangan tetap sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri.
Ananda berharap HIKMAHBUDHI tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh kader tanpa terpengaruh kepentingan politik praktis yang berpotensi menggerus jati diri organisasi.
“Perjuangan kita belum usai. HIKMAHBUDHI bukan milik satu orang atau satu kelompok, melainkan milik kita semua yang berjuang bersama. Mari kita kembali bersatu, meluruskan niat, dan bekerja sepenuhnya untuk umat,” tutup Ananda Budi Stiawan.(Niss)














