Buku “Selamat dari Bencana” Mulai Ajarkan Anak Lombok Utara Hadapi Gempa Tanpa Panik

LOMBOK UTARA, SIARPOST— Ketika gempa tiba-tiba mengguncang ruang kelas, kepanikan bisa menjadi ancaman tersendiri. Anak-anak perlu tahu apa yang harus dilakukan, ke mana harus bergerak, dan bagaimana menyelamatkan diri dengan cepat tanpa saling membahayakan.

Hal itulah yang kini mulai dikenalkan kepada siswa sekolah di Lombok Utara melalui buku bahan ajar pengurangan risiko bencana berjudul “Selamat dari Bencana”.

Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Lombok Utara telah merampungkan penyusunan buku tersebut dan segera mendistribusikannya ke sekolah-sekolah. Materinya dikemas dalam bentuk cerita bergambar sehingga lebih dekat dengan dunia anak dan mudah dipahami.

Ketua FPRB Lombok Utara, Budiawan, mengatakan penyusunan buku tersebut merupakan bagian dari roadmap atau peta jalan pengurangan risiko bencana yang disiapkan untuk membangun pemahaman masyarakat, terutama generasi muda.

“Roadmap atau peta jalan ini kami susun supaya anak-anak dan masyarakat memahami bencana itu seperti apa dan apa yang harus dilakukan,” kata Budiawan.

Menurutnya, bahan ajar tersebut disusun bersama tim dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan FPRB. Proses penyusunannya berlangsung sekitar dua bulan hingga akhirnya rampung sekitar lima hari sebelum kegiatan diseminasi digelar.

Buku itu kemudian diperkenalkan dalam kegiatan diseminasi bahan ajar pengurangan risiko bencana pada Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Kamis (13/8). Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk siswa SD dari sejumlah sekolah di Lombok Utara.

Para siswa tidak hanya menerima pemaparan mengenai kebencanaan, tetapi juga mendapatkan langsung buku “Selamat dari Bencana”. Dengan pendekatan cerita dan gambar, siswa diajak mengenali langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.

Budiawan menegaskan, diseminasi bukan sekadar memperkenalkan buku yang telah selesai disusun. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memastikan materi kebencanaan dapat benar-benar menjadi bekal bagi satuan pendidikan.

Pengenalan sejak usia sekolah dinilai penting karena Lombok Utara merupakan wilayah yang memiliki potensi berbagai bencana. Pengetahuan dasar mengenai penyelamatan diri diharapkan membuat anak-anak tidak hanya mengetahui bahwa bencana bisa terjadi, tetapi juga memahami tindakan yang tepat ketika situasi tersebut benar-benar terjadi.

Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Lombok Utara, Moh Najib, menyambut baik langkah tersebut. Menurutnya, pendidikan kebencanaan harus menjadi bagian dari cara menyiapkan generasi yang mampu berpikir dan bertindak menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan.

“Bagaimana kita berpikir ke depan bahwa bencana setiap saat bisa terjadi. Diseminasi ini sangat kita butuhkan untuk memberikan pembekalan di satuan pendidikan yang ada di KLU,” katanya.

Najib berharap sekolah, OPD, serta seluruh pihak terkait memberikan perhatian serius terhadap pendidikan kebencanaan. Sebab, menurutnya, kesiapsiagaan tidak cukup dibangun setelah bencana terjadi, tetapi harus ditanamkan sejak dini melalui kebiasaan dan pengetahuan yang sederhana.

Dikbudpora Lombok Utara juga menyatakan kesiapan untuk memperbanyak buku “Selamat dari Bencana”. Dengan demikian, bahan ajar tersebut tidak hanya berhenti pada sekolah yang mengikuti diseminasi, tetapi dapat menjangkau lebih banyak siswa di Lombok Utara.

Langkah ini diharapkan menjadi awal terbentuknya budaya sadar bencana di lingkungan sekolah, sehingga ketika guncangan benar-benar terjadi, anak-anak tidak hanya mengingat bahwa gempa harus diwaspadai, tetapi juga tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri.(Niss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *