Kunjungan Perpustakaan Lombok Utara Tembus 4.570 Orang, Pelajar Mendominasi

LOMBOK UTARA,SIARPOST — Perpustakaan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) mulai menunjukkan geliat di tengah perkembangan teknologi digital. Jumlah kunjungan yang mencapai 4.570 orang pada September menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas literasi masyarakat, terutama kalangan pelajar.

Peningkatan tersebut tidak terlepas dari upaya Dinas Perpustakaan dalam membangun kerja sama dengan sekolah. Para siswa didorong datang langsung ke perpustakaan untuk membaca buku, menyusun resensi, hingga mengerjakan tugas berbasis literasi.

Kabid Perpustakaan Doni Tarapi mengatakan, jumlah kunjungan menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan minat baca masyarakat. Selain kunjungan, pihaknya juga memantau peminjaman buku serta respons sekolah terhadap layanan perpustakaan keliling.

“Alhamdulillah, untuk beberapa bulan terakhir ini kunjungan kita meningkat. Ini mungkin karena kita juga bekerja sama dengan beberapa sekolah, meminta siswa datang ke perpustakaan untuk membaca buku, menulis resensi dan mengerjakan tugas lainnya,” ungkapnya,Senin 12/10/2026

Berdasarkan data September, dari total 4.570 pengunjung, sebanyak 2.666 orang merupakan pelajar, 764 mahasiswa, dan 1.140 pengunjung dari kalangan umum.

Sementara itu, pada Agustus jumlah kunjungan tercatat sebanyak 4.604 orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan masih menjadi salah satu ruang yang dimanfaatkan masyarakat untuk mengakses bahan bacaan.

Doni menyebut, jumlah kunjungan biasanya meningkat pada pertengahan semester dan awal tahun ajaran. Dalam periode ramai, kunjungan bahkan dapat mencapai sekitar 5.000 orang per bulan. Adapun saat relatif sepi, jumlah pengunjung umumnya masih berada di atas 3.000 orang.

Meski demikian, pihaknya belum menyebutkan persentase kenaikan minat baca masyarakat secara keseluruhan. Sebab, pengukuran minat baca tidak cukup hanya mengandalkan data kunjungan perpustakaan, tetapi juga perlu melihat aktivitas membaca di sekolah, penggunaan buku digital, serta indikator literasi lainnya.

Untuk menjaga ketertarikan masyarakat, perpustakaan KLU berupaya menghadirkan koleksi bacaan yang sesuai dengan kebutuhan pembaca. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyurvei minat masyarakat sebelum pengadaan buku dilaksanakan.

Menurut Doni, pendekatan tersebut mulai diterapkan dalam dua hingga tiga tahun terakhir agar buku yang disediakan tidak sekadar menambah jumlah koleksi, tetapi juga benar-benar dibutuhkan masyarakat.

“Biasanya sebelum pengadaan buku, kami melaksanakan survei terlebih dahulu untuk mengetahui buku apa yang ingin dibaca masyarakat. Kami juga menyasar sekolah untuk mengetahui kebutuhan mereka,” jelasnya.

Saat ini, koleksi perpustakaan KLU tercatat sekitar 43.000 eksemplar. Namun, jumlah tersebut masih dalam proses pencocokan melalui kegiatan stock opname, untuk memastikan kesesuaian antara data administrasi dan koleksi fisik yang tersedia.

Langkah pembaruan koleksi dinilai penting agar pengunjung tidak terus-menerus menemukan bacaan yang sama. Ketersediaan buku yang relevan dan menarik diharapkan dapat menjaga kebiasaan membaca masyarakat.

Di tengah kemudahan mengakses buku elektronik, perpustakaan KLU juga menyediakan layanan digital melalui aplikasi e-Pustaka Lombok Utara yang dapat diunduh dan digunakan melalui perangkat Android.

Meski demikian, pemanfaatan layanan digital tersebut belum menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Doni menjelaskan, jumlah kunjungan pada layanan digital terkadang tidak tercatat dalam aktivitas yang stabil, salah satunya karena pengelolaannya melibatkan pihak ketiga dan pembaruan koleksi yang belum selalu mengikuti kebutuhan pembaca.

Karena itu, layanan tatap muka tetap menjadi bagian penting dalam strategi memperluas akses bacaan, termasuk melalui mobil perpustakaan keliling yang menjangkau sekolah dan Taman Baca Masyarakat (TBM).

Perpustakaan KLU bahkan memberikan dukungan koleksi kepada TBM melalui sistem peminjaman bergilir. TBM dapat meminjam buku dalam jumlah tertentu untuk dimanfaatkan masyarakat selama tiga bulan, kemudian mengembalikannya dan menukar dengan koleksi lainnya.

“TBM ini tulang punggung kami juga untuk literasi. Mereka bergerak atas inisiatif sendiri untuk meningkatkan literasi masyarakat, sehingga kami berupaya membantu melalui fasilitasi buku,” katanya.

Melalui kolaborasi dengan sekolah, TBM, serta penyediaan koleksi fisik dan digital, perpustakaan KLU berupaya memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan.

Tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memastikan aktivitas tersebut tumbuh menjadi kebiasaan membaca yang berkelanjutan di tengah masyarakat Lombok Utara.(Niss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *