MATARAM, SIARPOST – Kabar membanggakan datang dari Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). dr. Ulfa Ramdhani, putri daerah asal Dompu, berhasil meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) tertinggi dalam prosesi Sumpah Dokter ke-58 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram (Unram).
Tak hanya menorehkan prestasi akademik, Ulfa juga dipercaya mewakili 14 dokter baru untuk menyampaikan sambutan dalam prosesi sumpah dokter yang berlangsung di Ballroom Hotel Prime Park Mataram, Selasa (27/10/2026).
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat Dompu. Ulfa merupakan putri keempat dari H. Sanusi H. Hamzah, S.Sos., yang berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran dengan pencapaian akademik membanggakan.
Namun, di balik keberhasilan menyandang gelar dokter, tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan, dukungan keluarga, dan kebersamaan dengan teman-teman seperjuangan.
Raih Prestasi Tertinggi, Dipercaya Wakili 14 Dokter Baru
Keberhasilan meraih IPK tertinggi menjadi pencapaian penting bagi dr. Ulfa Ramdhani setelah melewati berbagai tahapan pendidikan kedokteran yang menuntut ketekunan, kedisiplinan, dan kesiapan mental.
Kepercayaan untuk mewakili 14 dokter baru dalam menyampaikan sambutan juga menjadi momen istimewa. Di hadapan para dosen, civitas akademika, keluarga, dan tamu undangan, Ulfa menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanan mereka hingga berhasil menyelesaikan pendidikan.
Menurut Ulfa, keberhasilan tersebut bukan hasil perjuangan seorang diri. Ada doa dan pengorbanan orang tua, bimbingan dosen, serta dukungan teman-teman yang saling menguatkan ketika menghadapi berbagai kesulitan selama pendidikan.
“Hari ini kami menyadari, tak ada satu pun dari kami yang berdiri memakai jas putih ini karena berjuang sendirian. Ada doa dan pengorbanan orang tua dan keluarga yang selalu menyertai langkah kami, ilmu dan bimbingan dari para dosen dan staf pengajar, serta dukungan dari teman-teman seperjuangan yang saling menguatkan selama perjalanan ini,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para dosen dan seluruh civitas akademika FKIK Universitas Mataram yang tidak hanya memberikan ilmu kedokteran, tetapi juga membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan.
Bagi Ulfa, pengalaman menghadapi ujian, menyelesaikan revisi, hingga menjalani pendidikan klinis merupakan bagian penting dari proses pembentukan diri menjadi seorang dokter.
“Namun hari ini, kami menyadari: semua ketegasan itu adalah caranya untuk menjaga kami, agar esok hari kami menjadi dokter yang tangguh, cermat, dan berhati nurani,” tuturnya.
Kenangan Perjuangan dan Kebersamaan Teman Sejawat
Dalam sambutannya, Ulfa juga mengenang perjalanan bersama 13 rekan sejawat lainnya selama menempuh pendidikan kedokteran.
Masa pendidikan yang penuh tantangan, mulai dari kecemasan menghadapi ujian, menunggu hasil, kurang tidur, hingga menjalani jaga malam, menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan.
Di tengah tekanan tersebut, kebersamaan dan dukungan antarteman menjadi kekuatan untuk terus bertahan dan menyelesaikan pendidikan.
Ulfa mengingatkan bahwa keberhasilan mereka bukan hanya tentang nilai akademik atau gelar yang kini disandang, tetapi juga tentang ketangguhan dan kemampuan untuk saling menguatkan.
“Selamat, teman-teman. Terima kasih telah bertahan dan tidak membiarkan impianmu padam di tengah jalan,” katanya.
Pesan tersebut menggambarkan perjalanan panjang para dokter baru yang akhirnya mencapai salah satu tahap penting dalam kehidupan profesional mereka.
“Aji, Umi, Anakmu Sudah Menjadi Dokter”
Momen paling menyentuh dalam sambutan dr. Ulfa Ramdhani terjadi ketika ia menyampaikan penghormatan kepada orang tua.
Di hadapan para hadirin, Ulfa mengingatkan bahwa keberhasilan anak-anak mereka tidak dapat dipisahkan dari doa, cinta, dan pengorbanan orang tua yang selama ini menjadi sumber kekuatan.
Ia menyampaikan bahwa gelar dokter yang diraih bukan semata-mata milik para lulusan, melainkan juga buah perjuangan keluarga yang senantiasa mendukung perjalanan mereka.
“Ayah… Ibu… Terima kasih. Kata-kata tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan betapa besarnya pengorbanan dan cinta yang telah kalian berikan,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas waktu bersama keluarga yang mungkin tersita selama menjalani pendidikan, sekaligus mempersembahkan keberhasilannya sebagai ungkapan cinta kepada orang tua.
Bagi Ulfa, momen sumpah dokter menjadi kesempatan untuk membalas sebagian kecil dari pengorbanan yang telah diberikan kedua orang tuanya.
Secara khusus, ia kemudian menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya yang ia panggil Umi dan Aji.
“Untuk Umi yang sujudnya selalu menjadi doa untuk kesuksesan anak-anaknya. Terima kasih sudah menjadi tempat pulang paling nyaman, yang selalu menguatkan di saat saya hampir menyerah,” tuturnya.
Kepada sang ayah, Ulfa menyampaikan ungkapan penuh kasih.
“Untuk Aji, cinta pertamaku. Terima kasih sudah menjadi alasan saya terus bertahan dan menyelesaikan perjalanan panjang ini.”
Kemudian, dengan penuh haru, ia menyampaikan kalimat yang menggambarkan puncak perjuangannya selama menempuh pendidikan kedokteran.
“Aji… Umi… Anakmu sudah menjadi dokter…”
Ungkapan tersebut menjadi salah satu bagian paling emosional dalam sambutannya. Sebuah pesan sederhana yang mewakili rasa syukur seorang anak atas doa dan pengorbanan orang tua hingga berhasil meraih cita-cita.
Sumpah Dokter Bukan Akhir, tetapi Awal Pengabdian
Menutup sambutannya, dr. Ulfa mengingatkan seluruh dokter baru FKIK Universitas Mataram bahwa sumpah dokter bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Setelah menyelesaikan pendidikan, para dokter memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehidupan, memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, serta menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Untuk seluruh dokter baru FKIK Universitas Mataram, hari ini janji itu telah terucap. Tugas kita bukan lagi sekadar mengejar nilai, melainkan menjaga kehidupan,” katanya.
Ia berpesan agar para dokter baru senantiasa rendah hati, menjadi pendengar yang baik bagi pasien, dan tidak kehilangan empati dalam menjalankan profesi.
“Jadilah pendengar yang baik bagi pasien, dan jangan pernah padamkan empati di dalam dada kita,” lanjutnya.
Ulfa juga menyampaikan salam perpisahan kepada almamater yang telah menjadi tempatnya belajar, bertumbuh, dan menempa diri hingga resmi menyandang gelar dokter.
Ia berharap ilmu dan pengalaman selama menempuh pendidikan di FKIK Universitas Mataram dapat menjadi bekal untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Inspirasi bagi Generasi Muda Kabupaten Dompu














