Rambut Jagung Disulap Jadi Teh Herbal, Inovasi Buka Peluang Ekonomi Baru bagi Petani NTB

LOMBOK TENGAH, SIARPOST — Rambut jagung yang selama ini kerap terbuang setelah panen kini mulai dilirik sebagai bahan baku produk minuman herbal bernilai ekonomi.

Melalui kolaborasi perguruan tinggi, koperasi, pelaku usaha, dan pemerintah, inovasi teh rambut jagung resmi diperkenalkan dengan tiga varian yang memadukan bahan lokal Nusa Tenggara Barat (NTB).

Peluncuran produk tersebut berlangsung di rumah produksi CV Tri Utami Jaya, Kamis (29/10/2026). Produk yang diperkenalkan terdiri dari teh rambut jagung original, teh rambut jagung dengan jahe yang diberi nama Teh Raja, serta teh rambut jagung kombinasi serai.

Inovasi ini menjadi upaya mengolah hasil samping tanaman jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal menjadi produk pangan yang berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi petani.

Ir. I Wayan Swecayasa, M.Si., yang tengah menempuh pendidikan doktoral bidang pertanian berkelanjutan di Universitas Mataram (Unram), menjelaskan bahwa pengembangan teh rambut jagung berawal dari penelitian yang melibatkan mahasiswa dan kemudian diterapkan kepada masyarakat.

Menurutnya, NTB memiliki potensi bahan baku yang besar karena jagung menjadi salah satu komoditas pertanian utama, baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa.

“Rambut jagung selama ini tidak dimanfaatkan oleh petani sehingga menjadi limbah dan tidak memiliki nilai tambah. Dengan memanfaatkan hasil samping ini, kami berharap dapat meningkatkan pendapatan petani,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengembangan produk tersebut tidak hanya berorientasi pada inovasi minuman herbal, tetapi juga pada upaya membangun nilai tambah komoditas jagung melalui proses hilirisasi.

Bahan baku yang sebelumnya tidak menghasilkan pendapatan tambahan diharapkan dapat menjadi bagian dari rantai usaha baru, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, pengemasan hingga pemasaran produk.

Pemilihan jahe dan serai didasarkan pada potensi ketersediaan bahan tersebut di NTB sekaligus peluang pengembangan cita rasa minuman berbahan alami.

Swecayasa mengatakan rambut jagung memiliki kandungan antioksidan yang menjadi salah satu aspek menarik untuk diteliti dan dikembangkan. Namun, ia menegaskan bahwa produk tersebut diposisikan sebagai minuman berbahan pangan, bukan obat.

Karena itu, klaim khasiat medis tidak dicantumkan pada kemasan. Pengembangan produk tetap membutuhkan pengujian dan kajian ilmiah sesuai ketentuan yang berlaku sebelum manfaat kesehatan tertentu dapat diklaim.

Dekan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Unram, Dr. Ir. Satrijo Saloko, M.P., mengatakan keterlibatan perguruan tinggi diarahkan agar hasil penelitian tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, pengolahan rambut jagung menjadi teh merupakan salah satu contoh bagaimana hasil penelitian dapat meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.

“Melalui kolaborasi ini, kami ingin menerapkan hasil-hasil riset yang langsung bisa memberikan dampak kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan produk masih dapat dilanjutkan melalui penelitian mengenai proses pengeringan, komposisi bahan, serta kemungkinan penambahan bahan alami lain untuk menghasilkan variasi produk.

Unram juga membuka peluang pendampingan berkelanjutan melalui keterlibatan mahasiswa, termasuk penelitian dan program KKN tematik di koperasi yang menjadi mitra pengembangan.

Kolaborasi Kampus, Koperasi, dan Dunia Usaha

Pengembangan teh rambut jagung ini berkaitan dengan program I-CARE yang melibatkan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) serta Kementerian Pertanian melalui dukungan kerja sama dengan Bank Dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *