Lombok Utara,SIARPOST — Kekhawatiran serius terhadap dampak bullying di lingkungan sekolah kembali disuarakan Hj. Rohani Najmul Ahyar. Dengan nada emosional dan penuh keprihatinan, ia menegaskan bahwa perundungan bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan ancaman nyata yang bisa merusak masa depan anak hingga membuat mereka mengalami trauma berat dan menolak kembali ke sekolah. Kamis, 12/02/2026.
Menurutnya, setiap kasus bullying harus dipandang sebagai persoalan bersama, bukan hanya tanggung jawab sekolah. Dampaknya bisa panjang dan membekas dalam perkembangan mental serta kepercayaan diri anak didik.
“Saya jujur berat sekali menyampaikan ini, karena menyangkut masa depan anak. Kalau sampai ada anak trauma dan tidak mau sekolah lagi, ini sudah fatal dampaknya,” ujarnya.
Ia mengajak para guru dan orang tua untuk tidak berhenti menanamkan nilai kebersamaan, kasih sayang, dan saling menghargai di antara anak-anak. Lingkungan sekolah, kata dia, harus menjadi ruang aman, bukan tempat yang menakutkan bagi peserta didik.
Hj. Rohani juga menyoroti pentingnya peran instansi terkait, khususnya Dinas Sosial, dalam memperkuat kapasitas para konselor. Ia mendorong adanya peningkatan pelatihan dan materi pendampingan agar upaya sosialisasi pencegahan bullying bisa lebih masif, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.
“Para konselor harus dibekali lebih banyak kemampuan dan bahan edukasi. Pencegahan tidak cukup hanya imbauan, tapi harus ada pendampingan yang nyata,” tegasnya.
Selain itu, ia mengingatkan para guru untuk memberi perhatian yang adil kepada seluruh siswa tanpa perlakuan berbeda. Menurutnya, stigma “anak bodoh” atau “anak nakal” justru memperparah kondisi psikologis dan memicu label negatif yang merugikan perkembangan anak.
“Tidak ada anak yang bodoh, tidak ada anak yang nakal. Semua anak berharga. Yang berbeda hanya potensi dan waktunya untuk tumbuh. Tugas kita memastikan mereka merasa dihargai,” katanya.
Ke depan, persoalan bullying disebutnya harus menjadi perhatian bersama lintas pihak agar tidak lagi memakan korban mental di kalangan pelajar.(Niss)














