Mataram,SIARPOST— Di tengah laju cepat transformasi digital yang tak selalu ramah bagi semua kalangan, Bhayangkari Daerah Nusa Tenggara Barat mengambil langkah tak biasa: membekali anggotanya dengan dua “senjata” sekaligus kecerdasan buatan (AI) dan literasi keuangan.
Melalui Webinar “Generasi AI Nusantara”, organisasi ini tak sekadar menggelar diskusi, tetapi mencoba menjawab kegelisahan nyata: bagaimana keluarga bertahan di era algoritma dan tekanan ekonomi yang kian kompleks.
Mengusung tema “Guru Adaptif, Murid Kreatif; Smart Kelola Keuangan Keluarga; Bhayangkari Berliterasi Keuangan”, kegiatan yang diikuti sekitar 1.300 peserta ini memperlihatkan satu hal penting perubahan zaman tidak bisa dihadapi dengan cara lama.
Ketua Bhayangkari Daerah NTB, Ny. Uty Edy Murbowo, menegaskan bahwa AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan realitas yang sudah masuk ke ruang-ruang privat keluarga. Namun, ia juga mengingatkan, teknologi ini membawa risiko yang tak kalah besar.
“AI ini seperti dua mata pisau. Bisa membantu kehidupan, tapi juga bisa merusak jika tidak digunakan dengan bijak,” tegasnya.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Di balik kemudahan digital, ancaman seperti pinjaman online ilegal hingga judi online semakin masif menyasar keluarga, termasuk yang sebelumnya dianggap aman secara ekonomi. Dalam konteks ini, literasi digital dan finansial bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Webinar yang digelar dalam rangka HUT Yayasan Kemala Bhayangkari ke-46 ini juga menyoroti perubahan peran perempuan, khususnya dalam keluarga besar Polri. Bhayangkari didorong tidak hanya sebagai pendamping, tetapi menjadi pengambil keputusan yang cakap dalam menghadapi tantangan zaman.
Susan Novita, salah satu narasumber, menekankan pentingnya pergeseran peran pendidik di era AI. Menurutnya, guru dan orang tua tidak lagi cukup hanya menyampaikan pengetahuan.
“Mereka harus jadi fasilitator yang mampu mengasah kreativitas dan daya kritis anak. Generasi hari ini adalah calon inovator, bukan sekadar pengguna teknologi,” ujarnya.
Di sisi lain, persoalan klasik justru masih menjadi titik lemah: pengelolaan keuangan keluarga. Yan Anjas Pratama mengungkapkan bahwa banyak keluarga belum memiliki fondasi finansial yang kuat, sehingga mudah goyah saat menghadapi krisis.
“Hal sederhana seperti mencatat pengeluaran sering diabaikan. Padahal itu dasar dari ketahanan ekonomi keluarga,” katanya.
Ia juga mengingatkan maraknya jebakan investasi ilegal yang kini semakin canggih memanfaatkan teknologi digital.
Menariknya, diskusi dalam webinar ini tidak berhenti pada tataran konsep. Bhayangkari secara tegas mengambil posisi sebagai bagian dari solusi, khususnya dalam memerangi maraknya pinjol ilegal dan judi online yang dinilai merusak sendi ekonomi keluarga.
Dengan jaringan yang tersebar hingga tingkat ranting dan cabang, Bhayangkari memiliki potensi besar menjadi agen literasi di tengah masyarakat. Mereka diharapkan mampu menerjemahkan pengetahuan yang diperoleh menjadi aksi nyata di lingkungan masing-masing.
Dipandu oleh Ny. Heny Agus Purwanta, diskusi berlangsung dinamis dan menggarisbawahi satu benang merah: ketahanan keluarga di era digital tidak hanya ditentukan oleh ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi.
Antusiasme ribuan peserta menjadi sinyal bahwa isu ini bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan riil. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang webinar, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah Bhayangkari NTB ini setidaknya menunjukkan satu hal: di tengah derasnya disrupsi digital, ketahanan keluarga tidak bisa hanya mengandalkan insting ia harus dibangun dengan literasi, kesadaran, dan keberanian untuk berubah.(Niss)














