Gili Festival Disorot, DPRD KLU Nilai Promosi Tiga Gili Masih Minim

Lombok utara,SIARPOST – Gelaran Gili Festival yang masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) kembali mendapat sorotan. Meski dikemas sebagai event berskala nasional, pelaksanaannya dinilai belum mampu memberikan efek nyata terhadap promosi pariwisata maupun peningkatan kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.

Kritik tersebut disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Lombok Utara (KLU), Kamah Yulianto. Ia menilai persoalan utama bukan pada ada atau tidaknya festival, melainkan bagaimana event tersebut dimanfaatkan sebagai mesin promosi destinasi.

Menurut Kamah, sebagian besar rangkaian Gili Festival masih terkesan seremonial. Anggaran yang tersedia dinilai lebih banyak terserap untuk kebutuhan pelaksanaan kegiatan, sementara porsi untuk promosi justru sangat terbatas.

“Anggarannya hanya Rp50 juta,” kata Kamah rabu 12/08/2026

Dengan anggaran promosi yang minim, menurutnya, sulit mengharapkan Gili Festival mampu menjangkau pasar wisatawan yang lebih luas. Padahal, sebagai event yang masuk KEN, festival tersebut seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat branding tiga gili sekaligus mendatangkan wisatawan baru.

Kamah menilai pemerintah daerah seharusnya menggandeng media, influencer, hingga pelaku promosi digital untuk mengemas setiap rangkaian festival menjadi konten promosi yang bisa menjangkau calon wisatawan.

“Jangan sampai event hanya ramai saat pelaksanaan, tetapi setelah itu tidak ada dampaknya terhadap kunjungan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemetaan karakter wisatawan sebelum menentukan pola promosi. Pemerintah perlu mengetahui pasar utama Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, termasuk asal wisatawan, kebiasaan mereka mencari informasi perjalanan, hingga jenis konten yang paling menarik perhatian.

Dari data tersebut, strategi promosi bisa diarahkan secara lebih spesifik melalui berbagai platform digital.

“Jadi bukan sekadar menggelar festival. Harus ada target dan hasil yang jelas,” tegasnya.

Kritik serupa disampaikan aktivis LSM di Lombok Utara, Yanto Anggara. Ia menilai pelaksanaan Gili Festival selama ini terkesan seperti kegiatan yang belum memiliki konsep promosi yang matang karena tidak didahului kajian dan pemetaan pasar wisatawan secara jelas.

Menurut Yanto, Dinas Pariwisata KLU semestinya melakukan asesmen terhadap karakteristik wisatawan di tiga gili. Hasil kajian itu kemudian menjadi dasar dalam menentukan pola promosi dan pengembangan destinasi.

“Dinas Pariwisata kurang kreatif dalam melihat peluang seperti itu,” kritiknya.

Yanto menilai persoalan tersebut menjadi semakin penting karena sektor pariwisata merupakan salah satu potensi besar KLU untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, potensi tersebut belum terlihat dikelola dengan strategi yang benar-benar terukur.

“Jangankan kata maksimal, kalau kita lihat keseriusan saja belum nampak dalam segala kegiatan pariwisata,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah tidak menjadikan Gili Festival sebatas agenda tahunan. Setiap rupiah anggaran yang dikeluarkan harus mampu menghasilkan dampak yang dapat diukur, terutama terhadap promosi, branding destinasi, kunjungan wisatawan, dan pada akhirnya kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD KLU.

Dengan demikian, evaluasi Gili Festival dinilai penting agar event yang sudah masuk kalender nasional tersebut tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi benar-benar menjadi instrumen promosi untuk mengangkat kembali daya tarik tiga gili di mata wisatawan.(Niss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *