LOMBOK UTARA,SIARPOST — Tradisi kebersamaan masyarakat Desa Pendua, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, terus terjaga. Selama enam tahun berturut-turut, masyarakat setempat konsisten menggelar sunatan massal yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
Tahun ini, kegiatan tersebut kembali digelar di Masjid Baiturrahman, Dusun Pendua Lauk, dengan melibatkan 24 peserta sunatan massal.
Kepala Desa Pendua, M. Abu Agus Salim Tohiruddin, menyebut keberlangsungan kegiatan tersebut menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong yang masih tumbuh di tengah masyarakat.
Menurutnya, kegiatan yang digelar secara swadaya dan bersama-sama oleh masyarakat itu bukan sekadar agenda tahunan, tetapi telah menjadi ruang untuk memperkuat kepedulian sosial antarwarga.
“Atas nama Pemerintah Desa, kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Desa Pendua. Ini merupakan wujud semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat di masyarakat. Tanpa semangat kebersamaan itu, acara seperti ini sulit bisa dilaksanakan,” ujar Abu Agus,Minggu 30/08/2026
Ia menjelaskan, sunatan massal tersebut telah dilaksanakan secara konsisten sejak 2021. Pelaksanaan pertama berlangsung di Dusun Pendua Daya.
Kemudian pada 2022, 2023 dan 2024 kegiatan dipusatkan di Dusun Pendua Lau. Pada 2025, kegiatan kembali dilaksanakan di Dusun Pendua Daya, sebelum tahun ini kembali digelar di Dusun Pendua Lauk
Dengan pelaksanaan tahun ini, total sudah enam kali kegiatan sunatan massal digelar. Dari enam pelaksanaan tersebut, jumlah anak yang telah mengikuti sunatan massal secara keseluruhan mencapai sekitar 85 orang.
Abu Agus berharap tradisi sosial tersebut tidak berhenti pada tahun ini. Ia ingin kegiatan yang lahir dari inisiatif dan semangat masyarakat itu terus dipertahankan sebagai bagian dari kehidupan sosial warga Desa Pendua.
“Kami berharap ke depannya mudah-mudahan ini bisa menjadi kegiatan yang positif yang bisa terus dipertahankan atau dilaksanakan kembali oleh masyarakat,” katanya.
Menurutnya, keberlanjutan kegiatan tersebut penting bukan hanya karena manfaatnya bagi anak-anak peserta, tetapi juga karena menjadi salah satu cara menjaga semangat kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat.
“Semangat kebersamaan, rasa kekeluargaan dan gotong royong di tengah-tengah masyarakat kami yang ada di Desa Pendua ini bisa terus dijaga pada tahun-tahun berikutnya,” harapnya.
Kepada 24 anak yang mengikuti sunatan massal tahun ini, Pemerintah Desa Pendua juga menyampaikan doa dan harapan agar mereka tumbuh menjadi generasi yang baik.
“Selamat kepada 24 peserta yang pada tahun ini akan dihitan atau disunat. Mudah-mudahan mereka menjadi anak-anak yang soleh, berbakti kepada orang tua, dan berguna bagi masyarakat, agama, dan Desa Pendua pada khususnya,” ucap Abu Agus.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para orang tua yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan tahun ini dapat terlaksana dengan meriah.
Bagi masyarakat Desa Pendua, enam tahun pelaksanaan sunatan massal tersebut menjadi catatan tersendiri bahwa sebuah kegiatan sosial dapat bertahan ketika dibangun dari kepedulian dan gotong royong warga. Bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah tradisi yang terus memberi manfaat bagi generasi berikutnya.(Niss)














