LOMBOK TIMUR, SIAR POST — Jalur pendakian Gunung Rinjani melalui Timbanuh, Lombok Timur, ternyata tidak hanya menawarkan tanjakan dan medan yang menguras tenaga.
Jalur ini memiliki karakter khusus dengan kombinasi hutan yang masih alami, mata air, kawasan savana, bunga edelweiss hingga panorama Danau Segara Anak dan Gunung Barujari.
Keindahan tersebut dirasakan langsung 34 pendaki dari tim Pendaki Hora Hore saat melakukan perjalanan pada Sabtu (3/10/2026) hingga Minggu (4/10/2026).
Rombongan memulai perjalanan dari Gerbang TNGR Desa Timbanuh sekitar pukul 09.00 WITA.
Pada bagian awal, pendaki langsung masuk ke kawasan hutan yang masih rapat dan sejuk.
Sekitar satu jam perjalanan, rombongan tiba di Pos 1. Jalur kemudian berlanjut menuju Pos 2 dengan waktu tempuh sekitar tiga jam dalam ritme santai.
Di sepanjang jalur, rombongan beberapa kali berhenti untuk beristirahat dan menikmati suasana hutan.
Menurut salah satu pendaki, Cindy, karakter jalur Timbanuh justru terasa menarik karena pemandangan terus berubah sepanjang perjalanan.
“Jalurnya masih alami. Kita melewati hutan, ada mata air di post 2, kemudian semakin ke atas pemandangannya berubah. Jadi tidak hanya tanjakan saja,” ujar Cindy.
Sesampainya di Pos 2, para pendaki dapat menemukan mata air alami yang menjadi sumber penting untuk mengisi kembali persediaan air.
Rombongan memanfaatkan waktu tersebut untuk makan dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Selepas Pos 2, medan mulai berubah. Tanjakan semakin terasa dan tenaga mulai terkuras.
Namun jalur tidak terus-menerus menanjak. Beberapa bagian yang lebih landai menjadi kesempatan bagi pendaki untuk mengatur napas.
Semakin tinggi, pepohonan mulai berubah dan beberapa bagian jalur menjadi lebih terbuka.
Rombongan kemudian melewati kawasan Kali Mati sebelum tiba di area camp Pos 3 sekitar pukul 16.20 WITA.
Perjalanan dari Pos 2 menuju camp Pos 3 membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dengan ritme santai.
Di Pos 3, selain tersedia mata air, para porter telah menyiapkan tenda dan kebutuhan rombongan.
Malam hari menjadi tantangan tersendiri karena suhu semakin dingin.
Summit attack dan bonus sunrise
Setelah beristirahat, rombongan melakukan summit attack sekitar pukul 04.00 WITA menuju Puncak Tembesi.
Langkah menjadi lebih pelan karena kondisi masih gelap dan medan semakin menanjak.
Namun perjalanan pagi itu memberikan kejutan.
Ketika rombongan mulai memasuki kawasan savana, cahaya matahari perlahan muncul dari ufuk timur.
Langit berubah kemerahan. Cahaya pagi menerangi hamparan pegunungan Rinjani dan membuat perjalanan yang melelahkan terasa terbayar.
Pendaki lainnya, Sry mengaku momen sunrise tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam perjalanan.
“Memang kita berangkat sedikit terlambat. Tapi justru dapat sunrise di savana. Pemandangannya luar biasa,” katanya.
Edelweiss hingga panorama Barujari
Perjalanan menuju Puncak Tembesi juga memperlihatkan bunga edelweiss yang tumbuh di kawasan pegunungan.
Sekitar 2,5 jam dari area camp dengan ritme normal, rombongan akhirnya mencapai Puncak Tembesi dengan ketinggian sekitar 2.853 MDPL.
Dari ketinggian tersebut, Danau Segara Anak dan Gunung Barujari terlihat membentang di hadapan pendaki.
Pemandangan inilah yang membuat perjalanan melalui Timbanuh memiliki daya tarik tersendiri.
Selain keindahan alam, perjalanan 34 pendaki Hora Hore juga diwarnai kebersamaan.














