Padahal, di kelurahan lain, proyek serupa sudah berjalan. Dari jembatan kerangka baja ke arah barat, misalnya, kawasan sungai sudah ditata dengan baik. “Kenapa Bugis tidak diutamakan, padahal kita ini di tengah kota?” tanya seorang tokoh masyarakat.
Dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencapai sekitar 5 ribu orang, Kelurahan Bugis memiliki potensi besar untuk berkembang. Penataan bantaran sungai bukan hanya soal memperindah kota, tapi juga tentang pemerataan pembangunan.
“Kalau jalan dibuka dan ditata, bukan hanya warga bantaran sungai yang merasakan manfaatnya. Ekonomi lokal akan bergerak, UMKM tumbuh, pariwisata bisa berkembang, dan masyarakat bisa hidup lebih layak,” terang Sukri Syahruddin.
BACA JUGA : Bertemu Wakil Bupati, Pupinka Kelurahan Bugis Minta Dukungan Pemerintah Daerah
Namun hingga kini, warga bantaran sungai Bugis masih menunggu. Menunggu datangnya perhatian dari para pemimpin yang silih berganti. Menunggu saat di mana mereka tidak lagi hidup di antara lumpur, air, dan harapan yang tak kunjung datang.
Malam hari di bantaran sungai Bugis, suara aliran air berpadu dengan percakapan warga yang masih berharap. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya ingin lingkungan yang aman, bersih, dan layak dihuni.
Di tengah gemerlap kota yang terus tumbuh, ada sepetak kehidupan yang nyaris terlupakan, di tepian sungai Kelurahan Bugis, Sumbawa. Di sanalah, warga terus memupuk harapan bahwa suatu hari nanti, tepian sungai mereka akan menjadi wajah baru dari kota yang benar-benar peduli pada warganya.
Redaksi | SIAR POST














