SUMBAWA, SIAR POST — Ketika hujan turun deras di Dusun Padak, Desa Lekong, Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa, jalan tanah yang menghubungkan permukiman warga ke Yayasan Darul Qur’an Ezzat Al Salimi berubah menjadi kubangan lumpur.
Jalan sempit dan berlubang itu menjadi satu-satunya akses bagi anak-anak untuk menuntut ilmu agama. Tak jarang, langkah kecil mereka terhenti karena terjatuh di jalan licin, namun semangat mereka tak pernah padam.
“Kalau hujan, kadang ada yang jatuh. Tapi gak ada pilihan lain, harus lewat jalan itu,” tutur Agustiana, pimpinan yayasan Darul Qur’an Ezzat Al Salimi dengan nada pasrah namun tegas mempertahankan tekadnya, Senin (10/11/2025).
Sejak berdiri tahun 2017, pondok ini telah menjadi tempat bernaung bagi lebih dari seratus santri, sebagian besar anak yatim dan keluarga kurang mampu dari sekitar Alas, Hijrah, dan Alas Barat.
Di tempat sederhana itu, mereka belajar Al-Qur’an dan tafsir, hadis, fiqih, akidah akhlak, bahasa Arab, hingga sejarah Islam, semuanya tanpa biaya sepeser pun.
“Dari awal berdiri sampai sekarang, kami tidak pernah memungut biaya. Pondok ini memang untuk anak-anak yang tidak mampu, supaya mereka bisa belajar agama tanpa beban,” ujar Agustiana.
Bangunan pondok berdiri di atas tanah yang sederhana, dikelilingi pepohonan dan hamparan sawah. Dari luar, tidak tampak megah, namun di dalamnya tersimpan cita-cita besar: mencerdaskan generasi dengan cahaya ilmu agama.
Sumber dananya sebagian berasal dari donatur asal Arab Saudi, sementara beberapa bantuan kecil pernah didapat dari Departemen Agama.
Namun, di balik semangat itu, ada perjuangan berat setiap hari. Jalan rusak menjadi kendala utama. Saat musim hujan tiba, kendaraan sulit melintas. Banyak orang tua akhirnya enggan mengantar anak-anak mereka mengaji, takut tergelincir atau jatuh di jalan becek.
“Banyak yang mau masuk pondok ini karena gratis, tapi karena jalannya rusak, banyak juga yang akhirnya tidak jadi. Kasihan anak-anak, padahal mereka semangat belajar,” kata Agustiana lirih.
Salah satu pengajar, Rusmini, mengaku kerap menempuh jalan berlumpur dengan berjalan kaki sambil membawa kitab dan alat tulis. Ia harus berhati-hati agar tidak tergelincir, namun baginya, mengajar adalah bentuk ibadah dan pengabdian.
“Kalau hujan, becek sekali, berat lewat situ. Tapi demi anak-anak, kami tetap datang. Kami berharap ada yang peduli, entah pemerintah atau dermawan, supaya jalan ini bisa diperbaiki,” ujarnya.
Bagi para santri, perjalanan penuh lumpur itu bukan sekadar perjalanan fisik. Itu adalah jalan menuju ilmu dan harapan. Mereka datang dengan sandal penuh lumpur, membawa kitab lusuh, tapi hati mereka bersih dan semangatnya besar.
Setiap sore, suara lantunan ayat suci terdengar dari pondok kecil itu, nyaring, murni, dan penuh makna. Suara-suara itu menembus kesunyian dusun, seolah menjadi pengingat bahwa di tempat terpencil pun, cahaya ilmu tetap menyala.
Program kemanusiaan seperti NTBCare turut menyoroti kondisi ini. Mereka menilai pondok seperti Darul Qur’an Ezzat Al Salimi adalah contoh nyata pendidikan non-formal yang mampu mengubah masa depan anak-anak miskin di pedesaan.
“Pemerintah harus hadir. Ini bukan hanya soal jalan, tapi soal masa depan anak-anak yang ingin belajar agama. Infrastruktur yang layak adalah bentuk penghormatan terhadap semangat mereka,” ujar perwakilan NTBCare, Yuni Bourhany dalam kesempatan terpisah.
Harapan masyarakat Dusun Padak kini sederhana, sebuah jalan yang layak. Jalan yang mudah diakses saat menuju tempat mengaji, jalan yang memudahkan guru datang mengajar, jalan yang menjadi penghubung antara santri dan surga ilmu.
“Kalau jalannya bagus, anak-anak pasti lebih semangat. Kami pun lebih tenang antar mereka,” ucap salah satu wali murid.
Dan jalan ini menjadi jalur alternatif bagi petani yg memiliki lahan diarea yayasan.
Di ujung kisah ini, mungkin tidak ada sorotan kamera atau tepuk tangan. Hanya anak-anak kecil yang menapaki jalan yang berlubang setiap hari dengan hati bersih dan mimpi besar. Mereka berjalan menuju pondok sederhana itu tempat di mana ilmu, iman, dan harapan tumbuh di tengah keterbatasan.
Redaksi | SIAR POST














