Sumbawa Barat, NTB (SIARPOST) – Hidup tanpa listrik seolah menjadi kenyataan pahit yang dialami satu keluarga di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Keluarga ini terdiri dari lima anggota dengan kepala keluarga bernama A. Rasid.
Selama ini sejak 2004 tinggal di rumah sangat sederhana, kumuh, dan tanpa sambungan listrik sendiri.
Foto kondisi rumah yang dikirim oleh relawan NTBCare memperlihatkan betapa minimnya kualitas hunian yang seharusnya sudah tersentuh layanan dasar pemerintah.
Keadaan ini menjadi cermin tajam yang memperlihatkan kontras antara kekayaan sumber daya alam di KSB dengan kenyataan sosial masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan yang ekstrem.
Kabupaten Sumbawa Barat dikenal sebagai salah satu daerah di Nusa Tenggara Barat yang kaya akan potensi sumber daya alam, termasuk sektor tambang dan kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Namun, kekayaan yang seharusnya bisa menopang kesejahteraan masyarakat justru tak tercermin dalam kehidupan A. Rasid dan keluarga.
Menurut keterangan dari pihak NTBCare, keluarga A. Rasid telah lama menetap di lokasi tanpa sambungan listrik sendiri. Relawan menggambarkan kondisi rumah yang gelap dan bergantung pada penerangan dari tetangga sekitar.
“Hidup tanpa listrik membuat keseharian keluarga ini sangat berat, mulai dari belajar anak-anak hingga kebutuhan dasar lainnya,” ujar salah satu anggota NTBCare.
Saat dikonfirmasi pada Selasa (20/1/2026), Kepala Desa Pasir Putih, Ahmadi, mengaku sudah menindaklanjuti informasi tersebut. Ia menyampaikan kalau warga itu tinggal di lahan yang bukan miliknya dan kemungkinan masih numpang listrik dari tetangga.
“Saya sudah konfirmasi ke Kasi Kesra. Katanya, warga ini tinggal di lahan orang lain. Kami pun sudah mengumumkan lewat pengeras suara kepada masyarakat yang belum punya meteran listrik untuk datang ke kantor desa,” jelas Ahmadi.
Ia menambahkan bahwa pihak desa akan melakukan cross-check kembali serta berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) dan Kesra untuk menindaklanjuti pemasangan listrik gratis bagi warga yang berhak.
Program Listrik Gratis ‘KSB Maju Perumahan’ Belum Tersosialisasi Maksimal?
Menurut data program resmi Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, terdapat sub-program KSB Maju Perumahan yang memberikan bantuan fasilitas listrik gratis 900 Watt/kWh bagi keluarga tidak mampu yang belum memiliki sambungan listrik. Bantuan ini merupakan bagian dari upaya menyediakan layanan dasar dan rumah layak huni.
Prosedurnya meliputi pengajuan ke Dinas Perkim dengan persyaratan seperti surat keterangan tidak mampu dan terdata di Dinas Sosial, kemudian dilakukan verifikasi lapangan sebelum permohonan disetujui dan dilaksanakan pemasangan listrik.
Namun dalam kasus keluarga A. Rasid, proses ini belum berjalan efektif, dan bahkan pemerintah desa mengakui belum mengetahui secara pasti apakah keluarga tersebut sudah terdata atau belum.
“Saya belum tau berapa lama mereka tinggal di sana,” kata Ahmadi.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkim Sumbawa Barat belum memberi respons atas permintaan klarifikasi media ini.
Kekayaan Daerah Kontras dengan Ketimpangan Sosial
Kisah keluarga di Kecamatan Maluk ini mencerminkan ketimpangan yang masih membayangi pembangunan di Sumbawa Barat. Padahal, daerah ini secara ekonomi dikenal produktif dengan sumber daya alam yang tinggi.
Kenyataan bahwa ada keluarga hidup tanpa listrik menunjukkan masih lemahnya akses layanan dasar bagi kelompok paling rentan.
Kondisi tersebut seharusnya menjadi panggilan bagi pemerintah desa hingga pemerintah kabupaten untuk turun langsung ke lapangan, memastikan bahwa program layanan dasar benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan, dan tak sekadar data di atas kertas semata.
KSB yang kaya sumber daya harus memastikan tidak ada warganya yang tertinggal dalam akses listrik, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Listrik bukan hanya soal penerangan, tapi juga simbol keadilan sosial dan akses dasar layanan yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia.
Redaksi | SIAR POST














