11 Bulan Menjabat, Jarot–Ansori Jawab Keraguan Publik: Dari Sekolah Rakyat hingga Inpres Jalan Rp380 Miliar

Sumbawa, SIARPOST — Di tengah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 Kabupaten Sumbawa, publik kembali menyorot kinerja pasangan Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP dan Drs. H. Mohamad Ansori.

Pertanyaan yang kerap muncul di ruang publik pun sederhana namun tajam: “Dalam 11 bulan menjabat, Jarot–Ansori bisa apa?”

Pertanyaan itu dijawab lugas oleh Anggota DPRD Sumbawa, Andi Rusni, SE., MM, yang menilai kepemimpinan Jarot–Ansori justru menunjukkan lompatan signifikan meski bekerja dalam keterbatasan fiskal dan warisan APBD pemerintahan sebelumnya.

Menurut Andi Rusni, perlu dipahami bahwa APBD 2025 bukanlah racikan Jarot–Ansori, karena telah disahkan pada November 2024 oleh DPRD periode sebelumnya.

Artinya, sejak dilantik pada 20 Februari 2025, Jarot–Ansori tidak memiliki ruang besar untuk langsung mengeksekusi visi-misi mereka melalui APBD murni.

“Namun di situlah kelebihan Jarot–Ansori. Mereka tidak menunggu, tidak berdiam. Mereka membaca peluang, mengkaji APBD, lalu bergerak cepat menyambungkan kebutuhan daerah dengan program pusat,” ujar Andi Rusni.

Deretan Program Strategis Nasional Masuk Sumbawa

Dalam waktu 11 bulan 2 hari, Andi Rusni mencatat sejumlah capaian strategis yang dinilainya belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pembangunan Sumbawa.

Beberapa di antaranya:
Sekolah Rakyat (SR) mulai beroperasi di eks SMPN 4 Sumbawa, setelah Jarot–Ansori berhasil mengungguli 8 kabupaten/kota lain di NTB.

Inpres Jalan Daerah senilai Rp380 miliar, terbesar sepanjang sejarah Sumbawa, untuk pembangunan tiga ruas jalan strategis yakni Batu Dulang–Tepal, Tepal–Batu Rotok, dan Lenangguar–Teladan.

Pembangunan Batalyon Infanteri Pembangunan TNI AD di Desa Kerekeh, Kecamatan Unter Iwes, menjadikan Sumbawa sebagai daerah prioritas nasional.

Sentra Industri Garam Nasional, yang tengah berproses dan menempatkan Sumbawa sebagai kandidat kuat mewujudkan swasembada garam.

Proyek Industri Unggas Terintegrasi Nasional senilai Rp1,3 triliun di Desa Serading dengan luas lahan 42 hektare, menjadikan Sumbawa satu dari lima lokasi nasional.

“Program-program ini tidak datang tiba-tiba. Ada kerja keras, kesiapan lahan, kesiapan administrasi, lobi politik, dan kerja siang-malam kepala daerah bersama birokrasi,” tegasnya.

Momentum APBD Perubahan 2025 menjadi titik awal nyata pelaksanaan visi-misi Jarot–Ansori. Meski efektif hanya sekitar 60 hari, sejumlah program prioritas berhasil dijalankan, antara lain,

  • Penataan Masjid Agung Nurul Huda
  • Revitalisasi Taman Simpang Bingung dan Taman Saliper Ate
  • Penataan ulang Lapangan Pahlawan
  • Program Sejuta Pohon untuk Sumbawa Lestari
  • Pembentukan Satgas Pengamanan Hutan, Gas Melon, dan Harga Jagung
  • Pembangunan jalan usaha tani, jalan lingkungan, cek dam
  • Elevasi Block C Pasar Seketeng
  • Percepatan pembangunan RSUD Sumbawa

“Ini semua dilakukan dalam kondisi efisiensi anggaran nasional. Tapi Jarot–Ansori justru menunjukkan pola kepemimpinan enterpreneurship, adaptif, cepat, dan solutif,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *