Lombok Utara,SIARPOST — Di tengah kekhawatiran lonjakan harga bahan pokok jelang Ramadhan 1447 H, hamparan cabai rawit di Desa Akar Akar, Kecamatan Bayan, justru memberi pesan berbeda: stabilitas harga bisa dijaga dari ladang petani.
Panen cabai rawit seluas 5,5 hektare yang berlangsung 27/2/2026 itu bukan sekadar agenda rutin pertanian. Di baliknya, ada strategi pengendalian inflasi yang sedang diuji efektivitasnya. Komoditas kecil berwarna merah ini diketahui menjadi salah satu penyumbang utama gejolak harga di NTB setiap memasuki periode hari besar keagamaan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, menegaskan bahwa cabai rawit memiliki andil signifikan terhadap inflasi daerah. Lonjakan permintaan saat Ramadhan kerap bertemu dengan pola panen yang belum sepenuhnya selaras antarwilayah, sehingga tekanan harga sulit dihindari.
“Kesinambungan produksi dan distribusi adalah kunci,” ujarnya dalam kegiatan panen tersebut.
Artinya, stabilitas harga tak lagi semata-mata menunggu intervensi pasar, melainkan dibangun dari kepastian pasokan sejak di lahan. Di sinilah peran petani menjadi krusial.
Panen dilakukan di lahan yang dikelola antara lain oleh Poktan Beriuk Geger, kelompok tani beranggotakan 41 orang yang telah berdiri sejak tahun 2000. Dari total 40 hektare lahan yang mereka kelola, produktivitas rata-rata mencapai 2–3 ton per hektare.
Angka itu bukan hanya statistik produksi, melainkan bantalan bagi pasar. Jika distribusi berjalan lancar, hasil panen ini diharapkan tak hanya memenuhi kebutuhan Lombok Utara, tetapi juga menyuplai wilayah lain di NTB yang mengalami tekanan harga.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Lombok Utara, Tresnahadi, S.Pt., yang mewakili Bupati, menegaskan komitmen daerah untuk memperkuat sektor hortikultura melalui penyediaan bibit, benih, hingga pendampingan teknis. Pemerintah daerah menyadari bahwa ketahanan pangan dan stabilitas inflasi berjalan beriringan.
Momentum Ramadhan selalu identik dengan meningkatnya konsumsi. Cabai rawit, sebagai bahan pokok dalam banyak menu masyarakat NTB, menjadi komoditas sensitif. Kenaikan kecil saja bisa memicu lonjakan harga di tingkat pasar.
Karena itu, koordinasi dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat. Kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, hingga skema pasokan dari luar daerah jika diperlukan, disiapkan sebagai langkah antisipatif.
Panen di Desa Akar Akar membuktikan bahwa pengendalian inflasi bukan hanya urusan rapat koordinasi dan angka statistik. Ia bermula dari ketekunan petani menjaga tanaman, memastikan panen tepat waktu, dan menjaga kualitas produksi.
Di Ramadhan 1447 H ini, cabai rawit Lombok Utara tak sekadar dipanen. Ia diposisikan sebagai penopang daya beli masyarakat sebuah peran strategis yang mungkin sering luput dari perhatian, namun berdampak langsung pada stabilitas ekonomi daerah.(Niss)
Cabai Rawit Jadi “Penjaga” Daya Beli Saat Ramadhan, Lombok Utara Kirim Sinyal Stabilitas Harga ke NTB














