Di Tengah Duka Wafatnya dr Jack, Status Facebook Pono Theis Dihujat Warganet: Lukai Hati Keluarga Almarhum

Mataram, NTB (SIAR POST) – Di tengah duka masyarakat Nusa Tenggara Barat atas wafatnya Kepala Bapenda NTB, Herman Mahaputra yang dikenal dengan sapaan dr Jack, sebuah status di media sosial justru memicu polemik dan kemarahan publik.

Akun Facebook Pono Theis menjadi sorotan setelah mengunggah status yang menyinggung sejumlah kebijakan almarhum saat menjabat sebagai Direktur RSUP NTB.

Unggahan tersebut dipublikasikan pada Rabu (11/3/2026), di saat masyarakat NTB masih diliputi suasana duka atas kepergian sosok dokter sekaligus birokrat yang dikenal luas di NTB.

Dalam statusnya, Pono Theis menuliskan bahwa setiap orang berhak mengenang dan mendoakan almarhum dengan cara masing-masing. Ia mengaku menerima ratusan pesan dan telepon setelah kabar duka meninggalnya dr Jack tersebar.

“Kita akan mengenang dan mendoakan dengan cara masing-masing. Sampai saat saya membuka HP, ratusan chat WA dan telepon masuk tentang kabar duka atas meninggalnya mantan Direktur RSUP NTB,” tulisnya.

Namun dalam lanjutan tulisannya, Pono Theis menyinggung kebijakan yang menurutnya pernah menimbulkan penderitaan bagi masyarakat kecil. Ia bahkan menyebut almarhum akan dikenang oleh sebagian orang sebagai sosok yang meninggalkan “jejak kebijakan buruk”.

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang menilai unggahan itu tidak pantas disampaikan di saat keluarga dan masyarakat masih berduka.

Kolom komentar di unggahan tersebut dipenuhi kritik hingga hujatan dari pengguna media sosial.
Salah satunya datang dari akun Arif Belo yang menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap seorang muslim.

“Jika pun benar yang kau sematkan pada almarhum, apakah layak juga bagimu sebagai muslim mengumbar aib orang, terlebih beliau sudah tiada?” tulisnya.

Komentar senada juga disampaikan akun Kemas Omi Andrian.
“Orang sudah meninggal, masih saja diomongkan yang tidak-tidak,” tulisnya.

Akun lainnya, Adil Rado, mengajak masyarakat untuk memaafkan dan mendoakan almarhum.
“Apapun kebijakan beliau selama menjabat sebagai pimpinan RSUP NTB, jika tidak berkenan mari kita maafkan, dan jika baik mari kita doakan semoga almarhum husnul khotimah,” tulisnya.

Sementara itu, Gede Eka Pastika menilai unggahan tersebut tidak beretika, apalagi jika hanya untuk mengejar perhatian di media sosial.
“Beretikalah sedikit kawan. Tidak elok membahas apa pun tentang orang yang sudah meninggal,” tulisnya.

Beberapa komentar juga mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, membicarakan keburukan orang yang telah wafat termasuk perbuatan yang tidak dianjurkan karena dapat menyakiti keluarga yang ditinggalkan.

Bahkan, salah satu warganet bernama Fihiruddin Moh menyebut dr Jack sebagai kebanggaan masyarakat NTB dan mengkritik keras unggahan tersebut. Ia juga menyatakan akan menelusuri akun yang dianggap telah melukai hati masyarakat dan keluarga almarhum.

Di sisi lain, sejumlah warganet justru memilih mengingat sisi baik almarhum. Salah satunya datang dari akun Nini Kiling yang mengaku suaminya pernah bertemu langsung dengan dr Jack di sebuah tempat olahraga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *