Posyandu Tak Lagi Sekadar Timbang Bayi, IUD Pascapersalinan Didorong Jadi Pilihan Utama di Lombok Utara

Lombok Utara, SIARPOST– Posyandu di Lombok Utara mulai bergerak keluar dari pola lama. Tak lagi sekadar tempat menimbang bayi dan mencatat tumbuh kembang, kini posyandu didorong menjadi ruang edukasi aktif bagi ibu muda terutama soal keputusan penting setelah melahirkan: memilih kontrasepsi jangka panjang. Rabu, 15/04/2026.

Langkah ini terlihat dalam kegiatan pembinaan posyandu inovatif yang digelar Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP2KBPMD) bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Lombok Utara. Fokusnya jelas: mengubah cara pandang masyarakat terhadap penggunaan KB IUD pascapersalinan.

Ketua TP PKK Lombok Utara, Rohani Najmul Akhyar, menegaskan bahwa momentum setelah melahirkan adalah fase krusial dalam menentukan kualitas keluarga ke depan. Namun, menurutnya, masih banyak ibu yang ragu atau bahkan menunda penggunaan kontrasepsi.

“Padahal, di fase ini justru waktu yang tepat untuk mulai merencanakan jarak kelahiran. IUD itu aman, efektif, dan tidak mengganggu produksi ASI,” ujarnya.

Ia menyebut, perencanaan keluarga bukan hanya soal membatasi jumlah anak, tetapi memastikan setiap anak tumbuh dalam kondisi optimal baik dari sisi kesehatan maupun perhatian orang tua.

IUD sendiri dikenal sebagai metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dengan masa pakai hingga 10 tahun. Risiko efek sampingnya relatif kecil, namun tingkat penggunaannya di Lombok Utara masih tergolong rendah. Hal ini dinilai lebih karena faktor persepsi dan minimnya informasi dibandingkan alasan medis.

Untuk itu, pendekatan berbasis posyandu dianggap lebih efektif. Di level inilah interaksi langsung antara kader kesehatan dan ibu-ibu terjadi secara rutin, membuka ruang dialog yang lebih personal.

Kepala DP2KBPMD Lombok Utara, Atmaja, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi, tetapi juga bagian dari evaluasi layanan dasar posyandu.

“Kami melihat langsung bagaimana enam Standar Pelayanan Minimal berjalan, termasuk kaitannya dengan stunting. Dari situ terlihat bahwa intervensi di tingkat keluarga, termasuk penggunaan KB, sangat berpengaruh,” jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaan IUD pascapersalinan menjadi salah satu strategi yang dinilai efektif untuk menekan angka kehamilan berisiko sekaligus mendukung upaya penurunan stunting.

Menariknya, dalam kegiatan ini, pemerintah daerah juga memberikan penghargaan kepada para ibu yang telah menggunakan IUD. Bukan sekadar seremoni, langkah ini dimaksudkan sebagai stimulus sosial bahwa ber-KB adalah pilihan sadar yang patut diapresiasi.

Perubahan memang tidak bisa instan. Namun, ketika posyandu mulai bertransformasi menjadi pusat literasi kesehatan keluarga, harapan itu menjadi lebih nyata: ibu lebih berani mengambil keputusan, anak tumbuh lebih berkualitas, dan masa depan keluarga pun lebih terarah.(Niss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *