MATARAM, SIAR POST – Polemik pinjaman Rp118 miliar yang dilakukan PT Air Minum Giri Menang (Perseroda) kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya sorotan publik tertuju pada legalitas pinjaman, jaminan aset, hingga mekanisme persetujuan, kini perhatian masyarakat mulai mengarah pada penggunaan dana jumbo tersebut.
Hasil penelusuran yang dilakukan MataNTB menunjukkan sebagian besar dana pinjaman itu mengarah pada sejumlah proyek rehabilitasi jaringan distribusi air minum dengan nilai fantastis.
Terdapat tiga paket pekerjaan besar yang telah memiliki pemenang tender. Nilainya bahkan mendekati total pinjaman yang menjadi perdebatan publik selama beberapa bulan terakhir.
Paket pertama adalah proyek Rehabilitasi Pipa Jaringan Distribusi Utama Ruas I Kabupaten Lombok Barat dengan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) mencapai sekitar Rp37,8 miliar. Tender ini dimenangkan oleh PT Meconel Sistematis Sistematis Instrument.
Paket kedua yakni Rehabilitasi Pipa Jaringan Distribusi Utama Ruas II Kabupaten Lombok Barat dengan nilai HPS sekitar Rp35,1 miliar. Paket ini dimenangkan oleh PT Nafisah Permata Jaya.
Sementara paket ketiga adalah Rehabilitasi Pipa Jaringan Distribusi Utama Ruas Kota Mataram dengan nilai HPS hampir Rp39,8 miliar dan dimenangkan oleh PT Dabakir Putra Mandiri.
Jika ditotal, ketiga paket tersebut memiliki nilai HPS lebih dari Rp112 miliar. Angka itu hanya terpaut sekitar Rp6 miliar dari total pinjaman Rp118 miliar yang sebelumnya memicu berbagai pertanyaan dari masyarakat.
Fakta tersebut membuat publik mulai menyoroti proses tender dan pelaksanaan proyek yang akan menggunakan dana dalam jumlah sangat besar tersebut.
Seluruh paket diketahui menggunakan metode evaluasi harga terendah sistem gugur. Secara regulasi, metode ini memang diperbolehkan dan lazim digunakan dalam pengadaan proyek pemerintah maupun BUMD.
Namun bagi masyarakat, persoalan tidak berhenti pada penetapan pemenang tender.
Pertanyaan yang kini muncul adalah berapa nilai penawaran akhir masing-masing pemenang? Seberapa besar selisihnya dibanding HPS? Dan apakah penawaran yang lebih murah tetap mampu menjamin kualitas pekerjaan yang dibutuhkan?
Dalam proyek infrastruktur air bersih, harga bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Kualitas material, spesifikasi teknis, umur layanan jaringan, hingga ketahanan pipa dalam jangka panjang menjadi faktor yang menentukan manfaat proyek bagi masyarakat.
Publik juga mulai mempertanyakan rekam jejak perusahaan-perusahaan pemenang tender tersebut.
Apakah mereka memiliki pengalaman mengerjakan proyek serupa dengan nilai besar? Bagaimana kinerja proyek-proyek sebelumnya? Dan apakah proses persaingan tender berlangsung secara kompetitif serta memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh peserta?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dinilai wajar mengingat dana yang digunakan mencapai ratusan miliar rupiah dan berasal dari skema pinjaman yang pada akhirnya akan berdampak pada kondisi keuangan perusahaan daerah.
Karena itu, transparansi tidak boleh berhenti hanya pada pengumuman pemenang tender.














