Wisuda Penuh Duka: Perjalanan Mechi Kharisma Yanti, Kehilangan Kedua Orang Tua di Tengah Mimpi yang Terwujud

DOMPU, NTB (SIAR POST)
Innalillahi wainnailaihiroji’un. Kisah pilu namun penuh keteguhan datang dari seorang putri daerah asal Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Di saat banyak mahasiswa merayakan hari kelulusan dengan penuh sukacita bersama keluarga, Mechi Kharisma Yanti justru harus menapaki momen wisudanya dalam balutan duka mendalam.

Perempuan yang resmi menyandang gelar Sarjana Farmasi dari Universitas Ngudi Waluyo Semarang itu, Selasa (14/4/2026), berdiri tegar di panggung wisuda, tanpa kehadiran kedua orang tuanya, Abdul Azis dan St. Arma, yang telah lebih dahulu berpulang.

Ujian hidup Mechi datang bertubi-tubi dalam waktu yang begitu singkat. Sebulan sebelum hari wisuda, sang ayah meninggal dunia dan dimakamkan di Dompu pada 14 Maret 2026. Luka itu belum sempat benar-benar sembuh, ketika takdir kembali menguji.

Beberapa waktu kemudian, Mechi pulang ke Dompu untuk menjemput ibunya agar bisa mendampingi di hari wisuda. Harapan sederhana itu berubah menjadi kisah yang tak pernah dibayangkan.

Dalam perjalanan panjang menuju Semarang menggunakan bus, sang ibu mendadak jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit di Surabaya.

Hari-hari penuh kecemasan pun dilalui. Mechi setia mendampingi ibunya yang dirawat di RS Khadijah Sidoarjo. Namun kondisi Mechi sendiri ikut menurun. Ia sempat drop hingga harus menjalani perawatan infus di Semarang, memaksanya meninggalkan sang ibu yang masih terbaring sakit.

Belum sempat rasa khawatir itu reda, kabar duka datang menghantam. Ibunda tercinta, St. Arma, menghembuskan napas terakhir pada Minggu, 12 April 2026, setelah sempat menjalani operasi.

Duka itu terasa begitu dalam. Mechi yang sebelumnya mendampingi sang ibu di rumah sakit, tak sempat berada di sisi ibunya di detik-detik terakhir. Dengan kondisi fisik yang belum pulih, ia kembali berangkat ke Surabaya.

Di sanalah, kesedihan pecah tak terbendung saat ia memeluk jenazah ibunya, sosok yang selama ini menjadi kekuatan terbesar dalam hidupnya.

Namun ujian belum berhenti. Di saat bersamaan, Mechi harus dihadapkan pada pilihan paling berat dalam hidupnya, tetap menjalani prosesi wisuda atau mengantar ibunya ke peristirahatan terakhir.

Dengan hati yang teriris, keputusan diambil. Jenazah sang ibu dipulangkan ke Dompu menggunakan ambulans, didampingi oleh sang kakak, Rangga. Sementara Mechi, dengan segala luka dan air mata yang belum kering, kembali ke Semarang untuk menuntaskan perjuangannya.

Ironisnya, saat Mechi melangkah ke depan menerima gelar sarjananya, di waktu yang hampir bersamaan, sang ibu dimakamkan di tanah kelahiran mereka di Dompu.

Sebuah momen yang tak akan pernah terlupakan, antara bahagia dan kehilangan yang datang bersamaan.

Perjalanan pemulangan jenazah pun tidak mudah. Biaya yang membengkak hingga belasan juta rupiah sempat membuat keluarga kebingungan. Namun, solidaritas keluarga besar dari Dompu, Mataram, Bima, hingga Sumbawa menjadi kekuatan tersendiri.

Mereka bahu-membahu membantu hingga akhirnya jenazah dapat dipulangkan dengan layak.

Sepanjang perjalanan, jenazah disambut oleh keluarga di berbagai titik di NTB. Pelukan, doa, dan air mata menjadi penguat bagi keluarga yang ditinggalkan, terutama bagi Rangga yang mendampingi perjalanan panjang itu.

SAMBUNG HALAMAN BERIKUTNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *